Foto Teddy Syah. (Foto: Dokumentasi)

Kepergian Rina Gunawan menghadap Sang Khalik, Selasa (2/3/2021) lalu masih memberikan duka mendalam bagi keluarga dan para sahabat. Bahkan sang suami, Teddy Syah mengungkapkan betapa hancurnya ia dan keluarganya, terutama kedua anak pasca ditinggalkan perempuan kelahiran Bandung, 28 Juni 1974 itu. Sosok Rina masih tetap melekat dalam ingatan Teddy bergitupula dengan para sahabatnya. Mereka semua masih mengenang kebaikan yang telah dilakukan Rina semasa hidupnya. 

Teddy yang dijumpai dikediamannya di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat merasa masih terpukul atas kepergian sang isteri tercinta. Kebersamaannya dengan Rina selama 22 tahun pernikahan tidak akan pernah hilang dalam ingatannya. Sebagai isteri, Rina adalah isteri yang baik. Begitu juga sebagai seorang ibu, dia adalah ibu yang baik. Meski ia disibukkan dengan aktifitas wedding organizer yang dikelolalnya, namun ia tidak lupa untuk menjalankan tugasnya sebagai isteri dan ibu yang baik. Seperti selalu membuatkan kopi dan nasi goreng ‘Nggak Jelas” untuk Teddy dan kedua anaknya untuk sarapan. 

“Masakan kesukaan selama 22 tahun menikah,  nasi goreng nggak jelas. Saya  juga bingung tuh bumbu nggak jelas dimasukin tapi enak. Besok bikin bumbunya lain lagi. Karena waktunya dia ada di pagi hari meski dia baru tidur jam 4, jam 05.30 dah bangun lagi karena buat kami dari  dulu komunkasi penting meski hanya 10-15 menit. Saya seneng laki-laki mana yang nggak seneng dimasakin sama istri pasti seneng. Meski  nggak enak, nggak selera kita bilang enak. Dan ini enak makanya habis,” ungkap Teddy Syah. 

Selain itu Teddy juga ungkpakan ia sangat bahagia hidup dengan Rina dengan kedua anak mereka, Aqshal Ilham Syafatullah, putra sulungnya yang kini berusia 21 tahun dan Karnisya Rahma Syah, putrinya yang kini sudah berusia 17 tahun. Namun kebahagiaan tersebut sudah terenggut bersama kepergian Rina. Sakit sesak nafas disertai Covid 19 telah merenggut Rina dari Teddy dan keluarganya. Meski begitu Teddy merasa cukup lega karena sempat membimbing Rina pada saat sakaratul mautnya. Dan ia yakin kalau siterinya itu memang sosok yang baik dan peduli kepada banyak orang. 

“Tugas dia kan memang membuat orang lain puas seneng, karena kepuasan klien adalah kepuasannya juga. Dan dia akan lakukan segala hal untuk itu. Dia bekerja sungguh-sungguh buat mendelegasikan pekerjaannya kepadaorang aja dia sangat berat. Ya kalo cape pasti cape, mengurus WO mempelai abcd tingkat stressnya beda-beda. Perasaan almarhum harus disesuaikan dengan keluarga calon mempelai, ini yang buat pikiran WO itu yang bikin pusing,”kenang Teddy Syah.

Srmentara itu usai kepergian Rina, Teddy mengaku anak lelaki sempat mengalami kejang karena syok sang ibunda meninggal.

“Anak lelaki saya sempat kejang. Dia anaknya pendiam dan selalu menyimpan perasaan, jadi saya pelan-pelan harus menaikkan semangatnya dan kesabarannya,”ungkap  Teddy Syah.

“Ya saya terus ngobrol dengan dia, hingga kita juga bisa bergerak dari rumah di Sentul ke Bintaro. Ini nggak mudah buat kami, saya sudah hancur,”sambung Teddy Syah. 

Tidak hanya Teddy dan anak-anaknya yang merasa hancur atas kepergian Rina. Hal yang sama juga dirasakan oleh sahabat Rina karena Rina selalu terlihat sebagai sosok istimewa dimata para sahabatnya. 

“Paling penting saya bersaksi saya kenal Rina sma kelas 2 masih menari di studio 25 Atiek ganda, Bagito beraktiftas disana juga. Kami sempat umroh bareng Januari 2020. Orang ini 

sangat baik sebagai sahabat teman adik, orangnya riang, ringan tangan menolong orang. Saya merasa kehilangan,“kenang Miing Bagito (sahabat Rina Gunawan).

“Baik banget beliau. Saya ada kenangan waktu Uje meninggal, teteh tanyain keadaan saya tinggal dimana. Belum tau beliau sibuk nyariin pinjaman ke artis yang bisa ditempati sementara saat rumah saya kebakaran,  itu yang membekas sekali,”ujar Umi Pipik sangat sedih mengingat Rina juga merupakan tempat curhatnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here