Foto Teddy Syah. (Foto: Dokumentasi)

Rasa kehilangan akan kepergian isteri tercinta, Rina Gunawan kembali dirasakan Teddy Syah. Terutama saat suara takbir berkumandang menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah tahun ini. Kerinduan Teddy akan sosok Rina kembali mencuat disertai rasa sedih karena lebaran pertama Teddy dan keluarganya tanpa sosok Rina. Hal ini membuat lebaran kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Teddy sempat merasa kebingungan tidak tahu harus berbuat apa karena sebelumnya selalu Rina yang menyiapkan seluruh persiapan lebaran. Mulai dari hidangan lebaran, kue, bingkisan hingga baju lebaran.

Dan berhubung tempat pemakaman di wilayah DKI Jakarta ditutup selama lebaran guna menghindari penularan virus Corona, maka Teddy dan keluarga pun belum bisa ziarah ke makam Rina. 

“Alhamdulillah kalo maknanya sih tetep sama, bagaimana menjalankan dan melaluinya aja beda. Sekarang cuma saya, anak-anak sama ibu mertua ajah, memang berbeda gitu yah. Biasanya sih dari tahun ke tahun almarhumah tuh udah nyiapin. Jadi tahun ini saya gelagaban. Secara pribadi sih saya nggak tau kondisi anak-anak, tapi  kalo  dilihat secara singkat  sih sudah bisa memaknai, saling mengisi dan menemani satu sama lain,”ungkap Teddy Syah.

“Belom yah, jadi saya masih denger kabar TPU-nya masih dibatasi, jadi tutup yah, mungkin minggu depan. Dan habis Sholat Ied doa bersama kirim doa,”sambung Teddy Syah. 

Selain harus menerima kenyataan lebaran tanpa sosok almarhum, kondisi Corona juga memberikan kebiasaan beda yang harus dijalankan Teddy. Dan semua yang dulu dilakukan Rina, kini harus dilakukannya bersama anak-anaknya dan ibu mertua. Termasuk kebiasaan silaturahmi ke tetangga yang harus dibatasi karena Corona ini.

“Kita solat Ied di rumah, 5 orang solat jamaah. Wah kalo nggak dibatasi udah kabur saya artinya udah keliling. Jadi ya udah biar di dalam sini aja. Kalo disini itu kan ya sudah kita-kita ajah paling sama tetangga, ada pak Ustaz biasa ngisi acara di sini, siangnya ke rumah keluarga ngumpul sampe malem, kalo disini kan sepi,”terang Teddy Syah. 

“Setiap tahun sih pasti kan dia lebih cepet hal melakukan gerakan. Dia Lebih aktif, saya lebih pasif kalo saya. Biasanya kan ibu saya selalu bikin  tiap tahun lontong sayur Medan dan itu juga  favoritnya almarhumah. Biasanya dia sama  anak perempuan bakar kue, bikin kue kering gitu ntar kirim-kirimin. Biasanya kegiatannya itu,”kenang Teddy Syah. 

Sementara itu menjelang momen 100 hari kepergian almarhum Rina, Teddy belum bisa merencanakan apa-apa. Mengingat di masa pandemi ini, Teddy memang menghindari kegiatan ceremonial dan melakukan pembatasan. Meski begitu, Teddy dan anak-anak serta keluarga lainnya tak henti mengirim doa terbaik untuk isteri yang sudah 22 tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. 

“Sudah hari ke 70 yah , 2 bulan lebih. Menjelang 100 hari saya sih belum ada gambaran, kita sih bikin doa aja bersama, sama keluarga terdekat aja internal. Kemaren 40 harian aja kita batasin dan yang  bentuk ceremonial kita hindarin,”tandas Teddy Syah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here