Kasus penghinaan terhadap anak Shandy Aulia oleh sang perawat masih terus berlanjut. Dengan menggandeng pengacara kondang, Hotma Paris Hutapea, Shandy sudah mantap akan melayangkan somasi kepada sang pembully anaknya itu. Hal ini berawal dari orang tersebut tega menyebut putri Shandy, Claire Wibowo seperti anak yang kurang gizi di akun media sosial Shandy. 

Sebagai pengacara yang sudah ditunjuk oleh Shandy, Hotman pun membenarkannya. Dijelaskan oleh Hotman, ia diminta untuk mensomasi meski Hotman belum pernah bertemu dengan sang pelaku. 

Foto Hotman Paris Hutapea. (Foto: Dokumentasi)

“Ya benar bahwa Shandy menunjuk saya sebagai kuasa hukumnya, sebenernya prakteknya asisten saya. Prakteknya  kepada seorang perawat di Manado yang  melalui medsos katanya diduga sering mengata-ngatain putrinya, mislnya kurang gizilah dsb. Kata-kata yang diduga merendahkan gitu loh,”ungkap Hotman Paris Hutapea. 

“Saya diminta mensomasi apakah dia mau meminta maaf atau tidak, apakah akan lapor polisi atau tidak, belum tau. Saya belum pernah ketemu orangnya, baru kirim somasi si Shandy kasih namanya, nama kantornya itu aja. Yang jelas sih dia perawat,pegawai negeri, jadi  kita kirim juga tembusannya ke atasannya. Untuk surat mungkin dia baru terima, jadi saya belum tau jawabannya apa karena suratnya baru kita kirim sekitar 3 hari lalu,”sambung Hotman Paris Hutapea. 

Sikap tegas Shandy ke Hotman  ini karena orang yang menghina Baby Claire ternyata menggunakan akun asli serta profesinya yang juga asli, yakni diduga seorang perawat. Shandy ungkap bahwa kata-kata hinaan buat anaknya itu tak pantas dilontarkan oleh orang yang memiliki pendidikan tinggi dan juga pekerjaan yang baik. Karena itulah kasus ini ia serahkan sepenuhnya kepada pengacaranya, Hotman Paris Hutapea. 

Foto Shandy Aulia. (Foto: Dokumentasi)

“Ucapan-ucapan yang nggak pantes yang keluar  dari seseorang yang  maksudnya kan nggak  boleh ya, apalagi orang itu kan punya pendidikan dan pekerjaan yang bagus. Yang baik  bisa dicontoh sama masyarakat lainnya juga. Seharusnya kan sosok perawat nggak boleh mengeluarkan statemen apapun tanpa mengetahui yang bener, gitu intinya. Sampai saat ini pokoknya udah diserahkan sama lawyer, ya udah percaya ajah sama lawyernya itu kan yang paling penting. Semuanya udah di lawyer sama manajer saya, jadi  biarin gimana decide-nya nanti,”beber Shandy Aulia. 

Sementara itu tujuan Shandy mengirim somasi supaya hal ini bisa menjadi contoh dan efek jera bagi netizen yang berkomentar buruk tidak baik di sosial media.

“Ya ini salah satu contoh, salah satu efek jera agar netizen itu jangan sembarangan kalo mau mengkritik gitu loh atau mau kasih pendapat, suka atau tidak suka. Biasanya kalo somasi itu biasanya makan waktu kurang lebih 1 bulan, kalo nggak ada penyelesaian maka si klien akan menentukan apakah lapor polisi atau melupakan, itu terserah kepada klien,”tandas Hotman Paris Hutapea. 

Langkah selanjutnya, Hotman juga menegaskan semua tergantung dari kliennya, Shandy yang menginginkannya lanjut atau tidak. Menurut Hotman kasus ini juga bisa mengarah pada dugaan pencemaran nama baik yang termasuk dalam pasal 27 ayat 2 UU ITE. Tidak hanya itu, Hotman juga menyarankan jika orang tersebut ingin  meminta maaf, sebaiknya dilakukan langsung kepada Shandy juga dapat melalui konferensi pers di muka publik. 

“Dugaan mengarah ke pencemaran nama baik. Seolah misalnya si Shandy nggak becus merawat dan mendidik anaknya gitu loh sampai ada kata kata kurang gizi. Kalo pelakunya mau minta maaf harusnya datang kehadapan shandy, yaitu di depan umum harusnya begitu dong. Nggak boleh dong habis mengeluarkan kata-kata gitu seenaknya aja ngomong diluaran sana, harus di forum resmi gitu loh. Saya pribadipun mendukung hal-hal seperti itu tidak semua sengketa seperti ini harus diselesaikan melalui polisi. Dengan tau dia datang, sedikit konferensi pers minta maaf itu jauh lebih bagus,”jelas Hotman Paris Hutapea.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here