Foto dok Instagram/Balimau Kasai, Ritual Mandi Khas Riau Sambut Keberkahan Ramadan

Bulan Ramadan merupakan  bulan yang sakral dan penuh berkah.  Pada bulan ini, umat Islam memulai puasa sebulan penuh hingga memasuki bulan Syawal. Jadi tak heran kalau umat Muslim selalu menyambut bulan ini dengan ragam persiapan. Seperti yang dilakukan masyarakat di Riau dengan menggelar ritual Balimau Kasai.

Mengutip laman budaya-indonesia.org, Balimau Kasai adalah praktik ritual mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk limau. Menurut kepercayaan, air bersih adalah yang sudah  dicampur dengan bunga wangian dan jeruk seperti jeruk purut, jeruk nipis, dan  jeruk kapas. 

Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang dipakai saat berkeramas. Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut ini dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala sebelum memasuki bulan puasa.

Foto dok Instagram/Tradisi yang sudah dikenal sejak lama ini merupakan kebiasaan warga Riau untuk mensucikan diri dan mandi dialiran Sungai Kampar, Riau

Tradisi yang sudah dikenal sejak lama ini merupakan kebiasaan warga Riau untuk mensucikan diri dan mandi dialiran Sungai Kampar, Riau. Dari Pekanbaru, lokasi ini dapat ditempuh dengan perjalanan sekira satu jam atau 58 km.

Diduga ada pengaruh Hindu India dalam ritual Balimau Kasai karena ada kemiripan dengan ritual Makara Sankranti, yaitu saat umat Hindu mandi di Sungai Gangga untuk memuja dewa Surya. Hal ini diperkuat dengan penemuan gugusan candi di muara takus yang terletak di XIII Koto Kampar.

Oleh karena itu, ritual Balimau Kasai telah berlangsung secara turun temurun dikalangan Melayu Riau.  Lebih luas lagi, ritual ini dilakukan hampir di seluruh kabupaten/kota yang ada, dengan nama berbeda satu sama lain.

Masyarakat Kabupaten Kampar, Pekanbaru menyebutnya Balimau Kasai, sedangkan  masyarakat Kabupaten Kampar menyebutnya Petang Megang. Dan masyarakat Indragiri Hulu, cukup dengan nama Balimau saja.

Terdapat sejumlah peralatan dan bahan yang biasa digunakan dalam ritual Balimau Kasai ini. Diantaranya baju enam warna, yaitu : putih, hijau, merah, kuning, hitam dan kelabu. Pakaian berwarna putih secara khusus digunakan oleh pemimpin upacara, sedangkan sisanya digunakan oleh pembantunya.

Lima warna ini memiliki makna yang dihubungkan dengan malaikat dan empat khulafaur-rasyidin atau empat pemimpin Islam dalam tradisi Sunni sepeninggal Nabi Muhammad SAW. 

Sementara itu, guci yang digunakan adalah guci khusus yang telah berumur ratusan tahun. Guci ini digunakan sebagai tempat ramuan khusus yang akan digunakan dalam upacara Mandi Balimau. 

Ramuan khusus yang dimasukkan dalam guci berisi campuran air yang diambil dari sumur kampung yang telah dibacakan mantera dan dicampur dengan tujuh buah jeruk nipis sebagai perlambang penguasaan terhadap ilmu sakti.

Bahan lain adalah tujuh jumput mata mukot dan tujuh biji bawang merah yang melambangkan sifat penurut dan Arang using yang melambangkan sifat sabar, pandai menyimpan rahasia, dan kuat melakukan jihad fisabilillah.

Selanjutnya, pemimpin upacara, dengan didampingi lima laki-laki dengan mengenakan kain hijau, merah, kuning, hitam dan kelabu, membaca doa dan memantrai air ramuan yang ada dalam kendi. Setelah itu air ramuan tersebut disiramkan kepada para warga.

Foto dok Instagram/Acara pemandian dimulai dengan membasahi telapak tangan kanan dan dilanjutkan dengan tangan kiri

Acara pemandian dimulai dengan membasahi telapak tangan kanan dan dilanjutkan dengan tangan kiri. Jika dalam upacara ini hadir pejabat penting, maka para pejabat tersebut dimandikan terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan membasuh kaki kanan lalu kaki kiri. Setelah itu membasahi ubun-ubun lalu dilanjutkan dengan seluruh badan.

Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan pelaksanaan tradisi adat Sepintu Sedulang, yaitu membawa makanan secara bergotong-royong disuatu tempat, seperti masjid. Kemeriahan ini untuk menyambut bulan Ramadan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here