C&R TV, Jakarta — Perilisan album Republik Fufufafa tak hanya menghadirkan lagu-lagu baru bagi para penggemar Slank. Album studio ke-26 itu juga membuka kembali perbincangan lama tentang posisi band legendaris tersebut di tengah berbagai isu sosial yang berkembang di Indonesia.
Di media sosial, muncul anggapan bahwa Slank akhirnya kembali ke “setelan pabrik” karena kembali menghadirkan kritik sosial dalam karya terbaru mereka. Namun bagi para personelnya, narasi itu justru terasa janggal.
Bagi Slank, yang berubah bukan musik mereka, melainkan cara sebagian orang melihat perjalanan band yang telah berdiri lebih dari empat dekade itu.
Slank Merasa Tak Pernah Meninggalkan Jalurnya
Drummer Slank, Bimbim, menegaskan bahwa bandnya tidak pernah berhenti menyuarakan keresahan sosial melalui musik.
“Sebenarnya Slank enggak ke mana-mana kok, mereka saja yang berubah,” kata Bimbim saat konferensi pers album Republik Fufufafa di Markas Slank, Gang Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan.
Pernyataan itu menjadi respons atas komentar yang menyebut Slank baru kembali kritis setelah merilis album terbaru mereka.
Pandangan serupa juga disampaikan gitaris Slank, Ridho. Menurutnya, istilah “kembali ke setelan pabrik” menunjukkan bahwa sebagian orang tidak mengikuti perjalanan musik Slank secara menyeluruh.
“Kalau kata gue, kalian jangan menulis ‘setelan pabrik’, berarti kalian enggak mengerti Slank,” ujar Ridho.
Ia kemudian mengingatkan bahwa kritik sosial bukan sesuatu yang baru dalam katalog musik mereka.
Kritik Sosial Sudah Hadir Sejak Lama
Ridho menyebut album Pala Lu Peyang yang dirilis pada 2017 maupun album Vaksin pada 2021 juga memuat kritik terhadap berbagai fenomena sosial.
“Di 2017, itu kan periode pertama (Jokowi),” kata Ridho.
Menurutnya, jika kritik sosial dalam karya Slank baru dianggap muncul sekarang, berarti banyak fase perjalanan mereka yang luput dari perhatian publik.
“Jadi kalau sekarang baru kalian berbicara, berarti kalian enggak mengerti. Enggak mengamati Slank dari 2014,” lanjut Ridho.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa kritik sosial tetap menjadi bagian dari identitas kreatif Slank, terlepas dari bagaimana publik menafsirkan posisi mereka selama ini.
Menjawab Cap Band Pelat Merah
Selain soal “setelan pabrik”, Slank juga menanggapi label “band pelat merah” yang sempat dilekatkan kepada mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Menariknya, album Republik Fufufafa justru menghadirkan sejumlah lagu yang menyoroti berbagai persoalan sosial yang terjadi di Indonesia.
Bimbim menjelaskan bahwa lagu utama yang menjadi judul album lahir dari isu-isu yang ramai diberitakan media massa.
“‘Republik Fufufafa’ bercerita tentang negeri stunting, kurang gizi. Semua itu adalah berita yang ditulis wartawan, lalu kami ambil, kami capture, dan kami jadikan sebuah lagu yang berjudul ‘Republik Fufufafa’,” tutur Bimbim.
Menurutnya, tema yang diangkat dalam lagu tersebut akhirnya dianggap cukup kuat untuk mewakili keseluruhan album.
“Karena tema lagu ini sangat menarik, akhirnya kami jadikan judul album,” lanjutnya.
Album yang Memadukan Kritik dan Kehidupan
Selain lagu “Republik Fufufafa”, album ini juga memuat lagu “PPN 12%” yang lahir dari pengamatan terhadap berbagai aktivitas ekonomi ilegal dengan perputaran uang besar.
Slank juga menyisipkan kritik sosial dalam lagu “Jangan Rakus”, melengkapi warna album yang banyak berbicara tentang realitas kehidupan masyarakat.
Meski demikian, Republik Fufufafa tidak hanya berisi kritik. Album yang memuat 10 lagu tersebut juga mengangkat tema cinta, alam, serta kehidupan anak muda.
Kombinasi tema-tema itu menjadi cara Slank menjaga identitas mereka sebagai band yang tidak hanya bercerita tentang satu sisi kehidupan, tetapi juga merekam berbagai dinamika yang terjadi di sekitarnya.
Di tengah berbagai label yang pernah disematkan kepada mereka, Slank tampaknya ingin menyampaikan satu pesan sederhana: mereka merasa tidak pernah berpindah jalur. Yang berubah, menurut mereka, hanyalah sudut pandang sebagian orang yang melihatnya.











