Foto dok Instagram/Pasola, Ritual Adu Ketangkasan Berdarah Asal Sumba

Pasola merupakan sebuah tradisi yang dilakukan setahun sekali oleh warga Kampung Kodi, Kampung Lamboya, Kampung Wanokaka, dan Kampung Garoa di wilayah Sumba Barat. 

Tradisi berupa adu ketangkasan menggunakan kuda dan lembing ini merupakan puncak acara dari Pesta Adat Nyale yang dilakukan untuk memohon restu terhadap dewa dan nenek moyang menjelang musim panen tiba. 

Dalam pelaksanaan Pasola, dua “Ksatria Sumba” akan menunggangi kuda dan menyerang satu sama lain menggunakan tongkat kayu. Darah yang jatuh pada arena Pasola dianggap mampu membuat tanah mereka subur sehingga hasil panen berlimpah.

Bagi masyarakat Sumba, tradisi ini merupakan bagian dari upacara ritual Marapu, permohonan pengampunan, serta rasa syukur atas kemakmuran dan hasil panen yang melimpah.

Pasola berasal dari kata ‘sola’ atau ‘hola’ yang berarti kayu lembing. Tradisi ini diselenggarakan sekali dalam setahun pada permulaan musim tanam, tepatnya pada Februari.  Pasola umumnya digelar mulai pukul 9 pagi hingga menjelang siang. Sebagaimana layaknya pertarungan, peserta pasola tidak dibatasi.

Namun satu bulan sebelum pasola, seluruh warga harus mematuhi sejumlah pantangan, diantaranya dilarang mengadakan pesta, membangun rumah, dan lain sebagainya.

Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak hanya menjadi ajang keramaian semata. Lebih dari itu, pasola merupakan kultus religius, yakni suatu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada roh-roh leluhur.

Merujuk dari legendanya, pasola juga merupakan suatu bentuk penyelesaian krisis suku melalui ‘bellum pacificum’ atau perang damai dalam sebuah ritual adat. Selain itu, pasola juga dianggap sebagai perekat jalinan persaudaraan. 

Selanjutnya, dilakukan penentuan waktu penyelenggaraan pasola. Penghitungan ini didasarkan pada bentuk bulan, yang didukung oleh kemunculan tanda-tanda alam, seperti mekarnya bunga katina, babi hutan membuat sarang, pasang surut air laut, dan lain sebagainya.

Ritual selanjutnya yakni pati rahu atau ritual empat hari menjelang puncak perayaan yang diisi ritual-ritual penting. Ritual pun dilanjutkan dengan madidi nyale, yakni ritual sebelum fajar yang dilakukan di pantai.

Baru setelah itu, atraksi pasola digelar. Atraksi ini diselenggrakan secara berurutan di dua tempat berbeda, yakni di pantai Wanokaka setelah madidi nyale serta di arena utama Kamaradena.

Sebagai salah satu ritual unik khas Sumba, atraksi Pasola sangat menarik untuk disaksikan oleh wisatawan. Terlebih karena Pasola hanya berlangsung sekali dalam setahun maka tak heran jika banyak wisatawan sengaja datang untuk menyaksikan ritual ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here