Foto dok Indonesia Kaya/Tradisi Tabuik, Perhelatan Akbar Masyarakat Pariaman

Salah satu tradisi asal Sumatera Barat satu ini diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-19 Masehi dan sudah dikenal masyarakat luas, tak hanya masyarakat Minang saja. Tradisi yang dimaksud adalah Tabuik. 

Tabuik merupakan tradisi yang dilaksanakan di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Upacara Tabuik digelar setiap tahun pada tanggal 1-10 Muharram, dalam kalender Islam. Tradisi ini untuk memperingati kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW dalam Perang Karbala pada 10 Muharram. 

Tabuik diambil dari bahasa Arab, yakni tabut yang memiliki makna peti kayu. Orang Pariaman melafalkan menjadi Tabuik, hal ini karena pengaruh dialek Minang. Nama tersebut mengacu pada legenda tentang munculnya makhluk kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut buraq. 

Berdasarkan legenda itu, setiap tahun masyarakat Pariaman membuat tiruan buraq yang tengah mengusung tabut di punggungnya berbentuk menara belasan meter dan dikenal sebagai Tabuik. 

Secara harfiah Tabuik artinya peti mati atau keranda yang dihiasi bunga-bunga dan dekorasi lain yang warna-warni dan kelengkapan lain yang menggambarkan buraq (hewan kuda yang berkepala manusia). 

Dalam sejarah disebutkan Tabuik berasal dari orang India yang bergabung dalam pasukan Islam Thamil di Bengkulu pada tahun 1826, pada masa kekuasaan Thomas Stamford Rafles dari Kerajaan Inggris. 

Secara simbolik, Tabuik menggambarkan kebesaran Allah SWT yang membawa terbang jenazah Husein ke langit dengan buraq karena meninggal mengenaskan dalam Perang Karbala. Sejak 1982, Tabuik sebagai budaya penunjang pariwisata di Pariaman. 

Tahapan Tabuik Tradisi Tabuik bersifat kolosal karena melibatkan banyak orang, mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan tahap akhir pada penyelesaian puncak acara. 

Tabuik terdiri dari dua macam, yakni Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Keduanya mengacu wilayah yang berbeda. Tabuik Pasa (pasar) berasal dari sisi selatan sungai yang membelah kota hingga ke tepian Pantai Gandoriah.Wilayah Pasa dianggap sebagai daerah asal mula tradisi Tabuik. Sedangkan, Tabuik Subarang berasal dari daerah Subarang (seberang), yakni wilayah sisi utara sungai atau daerah yang disebut Kampung Jawa. 

Ada tujuh tahap rangkaian ritual Tabui, yang dilakukan pada taggal 10-15 Muharram yang disesuaikan dengan akhir pekan itu, yaitu mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan membuang tabuik ke laut. 

Pada puncak acara, Tabuik diarak menuju Pantai Gandoriah lalu dihoyak atau digoyangkan dan diambil semua benda-benda berharga yang dipasang pada Tabik. 

Kemudian tahap selanjutnya, Tabuik dilarung ke laut sambil saling dibenturkan yang dilakukan pada saat matahari mulai tenggelam atau menjelang magrib. 

Sesuai perkembangannya, mulai tahun 1982, perayaan tabuik dijadikan bagian dari kalender pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Karena itu terjadi berbagai penyesuaian salah satunya dalam hal waktu pelaksanaan acara puncak dari rangkaian ritual tabuik ini. 

Jadi, meskipun prosesi ritual awal tabuik tetap dimulai pada tanggal 1 Muharram, saat perayaan tahun baru Islam, tetapi pelaksanaan acara puncak dari tahun ke tahun berubah-ubah, tidak lagi harus pada tanggal 10 Muharram.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here