Foto dok Grid.ID/Uniknya Ritual Bakar Batu dari Papua  untuk Berbagai Momen Khusus 

Tradisi ‘Bakar Batu’  merupakan ritual yang berasal dari Papua. Tepatnya, tradisi unik itu dilakukan oleh salah satu suku di Papua, yaitu suku Dani dari Lembah Baliem, Papua.  

Sedangkan penamaan ‘Bakar Batu’ ini disebabkan masyarakat Papua yang memasak dengan batu yang dibakar terlebih dahulu.  Setelah dibakar, maka batu-batu tersebut dimasukkan ke dalam lubang kecil. Dan nantinya, bahan makanan seperti daging, umbi-umbian dan sayuran disusun tepat diatasnya dan dibiarkan hingga matang.

Tradisi ‘Bakar Batu’ ternyata sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dari berbagai sumber,  ritual ini bermula ketika ada pasangan suami istri yang bingung mengolah hasil kebun mereka. Sebabnya, panci yang digunakan untuk memasak tidak ada. Hingga akhirnya  mendapat ide untuk memasak menggunakan batu. 

Setelah itu, ternyata hasil masakan di batu terasa lebih lezat. Karena itulah, mereka memutuskan untuk memasak daging, umbi-umbian dan beragam jenis masakan di batu.

Sebutan untuk tradisi ‘Bakar Batu’ ini juga beragam, di Wamen ritual ini dikenal dengan kit oba isago, sedangkan di Paniai disebut dengan mogo apil.

Ada tiga tahapan yang harus dilalui dalam melakukan tradisi ‘Bakar Batu’, diantaranya tahap persiapan, bakar babi, dan makan bersama.

Dalam tahap persiapan, masyarakat Papua akan mengumpulkan kayu bakar dan batu untuk memasak. Dibagian paling bawah, ditata batu-batu dengan ukuran besar dan ditutup menggunakan kayu bakar.

Tumpukan tersebut akan dibakar hingga habis dan batu pun menjadi panas. Selanjutnya,  warga mempersiapkan sebuah lubang dengan ukuran yang disesuaikan, tergantung pada banyaknya bahan makanan yang akan dimasak.

Dasar lubang nantinya dilapisi oleh daun alang-alang dan daun pisang. Lalu batu-batu yang telah panas disusun di atas dedaunan dengan cara dijepit menggunakan kayu khusus yang biasa disebut apando. Persiapan ini dilakukan oleh kaum pria.

Baru kemudian setiap suku akan menyerahkan babi. Masing-masing kepala suku akan memanah babi secara bergiliran. Masyarakat meyakini jika sekali panah babinya langsung mati, maka ritual akan berjalan sukses. Sebaliknya, jika babi tidak langsung mati maka dipercaya akan terjadi hal yang kurang baik saat ritual.

Pada tahap kedua adalah membakar babi. Sebelum dibakar, babi akan dibelah dan dikeluarkan isi perutnya serta bagian-bagian lain yang tidak dimakan. Babi diletakkan di atas alang-alang yang telah dipersiapkan dan ditutup menggunakan dedaunan dan batu panas. Pada lapisan atas, diletakkan rerumputan tebal serta ubi jalar.

Sayur-sayuran pun diletakkan diatasnya, seperti daun hipere, iprika, daun singkong, labu parang, daun pepaya, dan lain sebagainya. Masakan tersebut juga ditambah potongan buah-buahan.

Waktu yang dibutuhkan dalam proses pembakaran hingga marang sekitar 60 sampai 90 menit. Rumput akan dibuka dan makanan akan dikeluarkan satu per satu, lalu dihamparkan di atas rerumputan.

Setelah hidangan telah siap, sampailah pada tahap terakhir, tahap ketiga, yaitu warga akan berkerumun dan menyantap makanan tersebut. Orang pertama yang menikmati adalah kepala suku, ia akan menerima sebongkah daging babi dan ubi. Setelah itu, barulah warga lain mendapat jatah yang sama.

Itulah sejarah mengenai Tradisi Bakar Batu beserta tahapannya. Sebuah tradisi yang  merupakan wujud syukur, bersilaturahmi antar saudara dan kerabat dalam menyambut kebahagiaan seperti perkawinan, kelahiran, penobatan hingga menyambut tamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here