C&R TV, Jakarta — Sebuah novel biasanya lahir dalam hitungan bulan atau beberapa tahun. Namun bagi Adeste Adipriyanti, kisah KATRI membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Penulis muda tersebut mengaku telah mengenal sosok Katri sejak lebih dari satu dekade lalu sebelum akhirnya memutuskan menuliskan kisahnya dalam bentuk novel.
Perjalanan selama 11 tahun itu bukan sekadar proses menulis, melainkan perjalanan memahami seorang manusia beserta sejarah hidup yang menyertainya. Di balik halaman-halaman novel KATRI, tersimpan proses panjang berupa pertemuan, percakapan, pengumpulan cerita, hingga usaha memahami berbagai peristiwa yang membentuk karakter tokoh utamanya.
Bagi Adeste, menulis KATRI bukan pekerjaan yang bisa dilakukan terburu-buru. Ia merasa kisah tersebut membutuhkan kedewasaan perspektif dan kedalaman pemahaman yang tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat. Karena itulah, selama bertahun-tahun ia memilih mendengarkan lebih banyak daripada menulis.
Seiring berjalannya waktu, cerita tentang Katri semakin lengkap. Potongan-potongan kisah yang semula berdiri sendiri mulai membentuk gambaran utuh tentang perjalanan hidup seorang perempuan yang menghadapi berbagai tantangan zaman. Dari sanalah muncul keyakinan bahwa cerita tersebut layak dibagikan kepada publik melalui sebuah karya sastra.
Dalam dunia kepenulisan, proses kreatif sering kali dianggap identik dengan inspirasi yang datang tiba-tiba. Namun pengalaman Adeste menunjukkan hal yang berbeda. Inspirasi memang penting, tetapi kesabaran dan ketekunan memiliki peran yang tidak kalah besar. Menunggu selama 11 tahun untuk menyelesaikan sebuah gagasan bukanlah keputusan yang mudah, terutama di tengah tuntutan untuk terus menghasilkan karya baru.
Justru karena prosesnya yang panjang, KATRI hadir dengan lapisan emosi yang kuat. Pembaca tidak hanya menemukan alur cerita, tetapi juga merasakan kedekatan antara penulis dan tokoh yang diceritakan. Hubungan tersebut terbangun dari waktu yang panjang, pengamatan yang mendalam, dan kepercayaan yang tumbuh selama bertahun-tahun.
Adeste mengaku bahwa setiap tahap perjalanan memberikan pemahaman baru mengenai Katri. Ada hal-hal yang baru dipahami setelah bertahun-tahun mengenalnya. Ada pula cerita yang baru terungkap ketika waktu dirasa tepat untuk membicarakannya. Semua itu menjadi bagian penting dalam penyusunan novel.
Di era yang serba cepat, kisah di balik lahirnya KATRI menjadi pengingat bahwa karya yang kuat sering kali membutuhkan waktu. Tidak semua cerita bisa diselesaikan dengan tergesa-gesa. Ada kisah yang harus dijalani, direnungkan, dan dipahami terlebih dahulu sebelum akhirnya dituliskan.
Sebelas tahun mungkin terdengar lama bagi sebagian orang. Namun bagi Adeste Adipriyanti, rentang waktu tersebut justru menjadi fondasi yang membuat KATRI lahir sebagai karya yang tidak hanya bercerita tentang seseorang, tetapi juga merekam perjalanan panjang memahami kehidupan manusia. Dari proses itulah sebuah novel menemukan ruhnya, dan dari kesabaran itulah sebuah cerita memperoleh kedalaman yang mampu menyentuh hati pembaca.





