C&R TV, Jakarta — Ruben Onsu mengaku masih berusaha memahami reaksi emosional yang ditunjukkan putranya, Betrand Peto atau yang akrab disapa Onyo. Ia mengaku terkejut saat mengetahui Onyo menangis, namun memilih tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum mendengar langsung cerita dari sang anak.
Menurut Ruben, hingga kini ia belum sempat memiliki waktu khusus untuk berbincang berdua dengan Onyo. Karena itu, ia merasa belum bisa memberikan penilaian apa pun terkait perasaan yang sedang dialami putranya. Baginya, memahami persoalan dari sudut pandang Onyo jauh lebih penting dibanding menyimpulkan sesuatu berdasarkan informasi yang beredar.
“Kalau tanya saya, saya belum ketemu ngobrol berdua sama Onyo. Jadi sebelum ngobrol berdua dulu saya takut beda pengertiannya. Saya belum bisa ngomong apa-apa dulu, harus ketemu dulu nanti sama Onyo,” kata Ruben.
Ruben menuturkan bahwa setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan atau situasi yang membuat mereka tidak nyaman. Karena pernah berada di usia yang sama, ia memahami bahwa ekspresi yang muncul dari seorang remaja tidak selalu bisa dijelaskan secara sederhana. Itulah sebabnya ia ingin mendengar langsung apa yang dirasakan Onyo, bukan sekadar menerima informasi dari pihak lain atau dari apa yang dibacanya.
Ia juga tidak ingin percakapan yang nantinya dilakukan berubah menjadi sesi interogasi. Sebaliknya, Ruben ingin menciptakan suasana yang santai agar Onyo dapat bercerita dengan nyaman mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang membuatnya begitu terpukul.
“Ngobrol sama anak seusia dia kan kita harus tidak membuat jadi tegang. Saya bukan sedang menginterogasi, tapi saya cuma mau tanya bagaimana ceritanya,” ujarnya.
Bagi Ruben, langkah pertama yang harus dilakukan sebagai orang tua adalah mendengarkan. Ia merasa tidak adil jika langsung menilai atau memberikan respons sebelum mengetahui duduk persoalan dari orang yang mengalaminya secara langsung. Karena itu, ia memilih menahan diri dan menunggu kesempatan berbicara dari hati ke hati dengan putranya.
“Dia mau berekspresi apa pun yang dia ungkapkan, saya harus dengar dari dianya dulu. Takutnya kalau saya ngobrol yang belum saya tahu, malah jadinya fitnah,” tutur Ruben.
Pengakuan Onyo yang menangis ternyata membuat Ruben ikut terguncang. Meski terbiasa menghadapi berbagai situasi di depan publik, ia mengaku tetap merasa syok ketika melihat putranya berada dalam kondisi emosional seperti itu. Menurut Ruben, setiap anak akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap persoalan yang mereka hadapi, dan tangisan Onyo menjadi salah satu bentuk luapan perasaan yang muncul karena ketidaknyamanan yang dirasakannya.
“Saya juga sebenarnya syok. Saya mikirnya pasti akan ada reaksi dari setiap anak yang berbeda. Onyo punya jiwa yang sangat tidak nyaman, jadinya melampiaskannya dengan nangis,” katanya.
Sebagai seorang ayah, Ruben mengaku nalurinya langsung tertuju kepada kondisi anak. Ia mengatakan bahwa seberat apa pun perasaan yang dirasakan orang tua, perhatian utama tetap diberikan kepada anak yang sedang terluka secara emosional. Baginya, kebutuhan anak harus didahulukan sebelum memikirkan dirinya sendiri.
“Kalau kita sudah jadi orang tua, yang ditolong anak dulu. Kita mah nanti dulu,” ujarnya.
Karena itu, Ruben berencana meluangkan waktu khusus untuk berbicara dengan Onyo. Ia ingin mengetahui apa yang menjadi penyebab kesedihan putranya, apa yang memicu tangisan tersebut, dan bagaimana cara terbaik untuk membantunya melewati situasi yang sedang dihadapi.
Ruben menyadari bahwa Onyo kini bukan lagi anak kecil. Kesibukan kuliah dan aktivitas bersama teman-temannya membuat waktu kebersamaan mereka tidak selalu banyak. Bahkan dalam keseharian, momen bertemu sering kali hanya terjadi di meja makan atau ketika Onyo hendak berangkat kuliah. Namun, menurut Ruben, komunikasi di antara mereka selama ini tetap terjaga dengan baik.
Ia menilai putranya sudah memiliki pola pikir yang semakin dewasa dan sering mencoba menyelesaikan persoalannya sendiri. Meski begitu, Ruben percaya bahwa seorang anak tetap membutuhkan sosok orang tua sebagai tempat bersandar ketika menghadapi masa-masa sulit.
“Namanya punggung orang tua itu penting. Tempat kita ngadu, tempat kita cerita,” kata Ruben.
Karena itulah ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendengarkan langsung apa yang sedang dirasakan Onyo. Bagi Ruben, percakapan sederhana antara ayah dan anak sering kali menjadi cara terbaik untuk memahami perasaan yang tidak selalu bisa diungkapkan di depan banyak orang.











