C&RTV, Jakarta – Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980 hingga 1990-an, Majalah Bobo bukan sekadar bacaan. Ia adalah pintu kecil menuju dunia yang lebih luas—tempat anak-anak belajar mengenal nilai, imajinasi, dan kehidupan melalui cerita yang sederhana namun mengena. Di balik dunia itu, terdapat para penulis dan editor yang bekerja dalam senyap, termasuk Herry Gendut Janarto, salah satu sosok yang ikut membentuk wajah literasi anak Indonesia.
Herry Gendut Janarto dikenal sebagai bagian dari ekosistem kreatif yang menghidupkan Majalah Bobo pada masa kejayaannya. Ia bukan sekadar penulis, tetapi juga bagian dari proses editorial yang memastikan bahwa setiap cerita anak yang terbit tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan moral dan pendidikan yang mudah dipahami.
Perannya menjadi penting karena Bobo bukan hanya produk hiburan. Majalah ini adalah salah satu medium utama literasi anak di Indonesia sebelum era digital. Dalam konteks itu, setiap cerita memiliki fungsi ganda: menghibur sekaligus membentuk karakter. Herry berada dalam ruang kreatif yang menuntut keseimbangan antara imajinasi dan nilai pendidikan.
Kontribusi tersebut terlihat dari cara Bobo menyajikan cerita: ringan, penuh warna, dan dekat dengan keseharian anak-anak Indonesia. Di balik kesederhanaan itu, ada proses panjang penyusunan ide, penyuntingan, hingga pemilihan narasi yang tepat agar sesuai dengan usia pembaca. Herry menjadi bagian dari tim yang menjaga agar kualitas cerita tetap konsisten dan relevan dengan dunia anak.
Lebih dari sekadar majalah, Bobo pada masa itu menjadi bagian dari rutinitas keluarga. Anak-anak menunggu edisi terbaru, membaca cerita bergambar, dan membicarakannya di sekolah. Dalam ruang sosial seperti itulah kontribusi para penulis Bobo, termasuk Herry, menjadi terasa nyata: mereka membentuk pengalaman kolektif generasi yang tumbuh bersama cerita.
Yang menarik, pendekatan Herry dalam dunia penulisan anak tidak berhenti pada hiburan semata. Latar belakangnya sebagai pendidik dan penulis membuatnya memahami bahwa cerita anak harus memiliki fondasi nilai. Karena itu, banyak karya di lingkungan Bobo yang tidak hanya mengajak anak tertawa, tetapi juga berpikir, memahami konsekuensi, dan belajar tentang empati.
Dalam lanskap literasi Indonesia, Majalah Bobo sering dianggap sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah bacaan anak. Namun di balik nama besar itu, terdapat banyak sosok yang bekerja tanpa sorotan utama. Herry Gendut Janarto adalah salah satu di antaranya—penulis yang ikut merancang dunia kecil yang kemudian menjadi bagian dari memori besar banyak orang.
Kini, di era digital ketika bacaan anak berpindah ke layar gawai, jejak seperti Bobo menjadi nostalgia yang kuat. Ia bukan hanya kenangan masa kecil, tetapi juga pengingat bahwa literasi anak pernah dibangun melalui proses kreatif yang panjang, penuh perhatian, dan sarat nilai.
Kontribusi Herry dan para penulis lain di Majalah Bobo menunjukkan bahwa literasi tidak hanya lahir dari buku-buku besar atau teori pendidikan, tetapi juga dari cerita sederhana yang dibaca sambil duduk di lantai ruang tamu, di sore hari, dengan rasa ingin tahu yang besar.
Dan di sanalah peran penting mereka: membentuk imajinasi, tanpa disadari, menjadi bagian dari perjalanan tumbuh anak-anak Indonesia.









