C&R TV, Jakarta — Menantea, brand minuman teh kekinian yang pernah memiliki lebih dari 200 gerai di seluruh Indonesia, akan tutup permanen mulai 25 April 2026. Penyebabnya bukan persaingan pasar — melainkan penggelapan dana oleh partner bisnis yang dipercaya Jerome Polin sejak hari pertama.
Jerome mengonfirmasi hal ini secara langsung. Sejak Menantea berdiri, sekitar Rp38 miliar dari rekening perusahaan dipindahkan ke rekening pribadi partner tersebut.
Laporan Palsu, Rekening Terkuras
Dalam kerja sama yang dibangun Jerome bersama kakaknya, Jehian Panangian Sijabat, pembagian peran terlihat wajar: Jerome fokus pada konten dan promosi, sementara partner memegang seluruh operasional dan keuangan.
Selama bertahun-tahun, partner secara rutin menyerahkan laporan keuangan dalam format Excel yang selalu menunjukkan Menantea dalam kondisi profitable. Jerome tidak pernah memeriksa langsung mutasi rekening perusahaan — ia mempercayai data yang disajikan.
Yang terjadi di balik layar berbeda. Menurut klaim Jerome dan hasil audit, uang dari pembelian hak franchise dan keuntungan operasional Menantea dialihkan ke rekening pribadi partner untuk kepentingan pribadi. Total dana yang dipindahkan mencapai Rp38 miliar.
Namun angka itu perlu dipahami dalam konteks yang lebih lengkap. Jerome menjelaskan langsung kepada Kompas.com (13 April 2026):
“Jadi duit yang dipindahin itu sekitar Rp 38 (Miliar), ada beberapa yang dibalikin untuk bayar operasional. Total Rp 5-6 miliar yang diambil. Ternyata duitnya itu dipakai buat nutupin lubangnya dia yang lain.”
Artinya: Rp38 miliar adalah total dana yang pernah dipindahkan, sebagian dikembalikan untuk menutup operasional, dan neto yang benar-benar digelapkan berkisar Rp5–6 miliar.
Ketahuan di 2023, Audit Ungkap Skala Kerusakan
Pada 2023, partner tiba-tiba mengabarkan bahwa kondisi keuangan Menantea memburuk dan saldo hampir habis. Itu adalah pertama kalinya Jerome mengetahui ada yang tidak beres. Indikasi awal sebenarnya sudah muncul sebelumnya — dari keluhan mitra soal masalah di lapangan dan tagihan supplier yang lama tidak terbayar.
Jerome dan Jehian kemudian melakukan audit investigasi bersama Kantor Akuntan Publik untuk mengukur besarnya kerugian. Hasilnya mengonfirmasi skala penggelapan yang terjadi sejak Menantea berdiri.
Untuk menyelamatkan bisnis, keduanya menggunakan dana pribadi hampir Rp10 miliar — menutup biaya operasional, gaji karyawan, bahan baku, dan ganti rugi kepada pihak-pihak terkait.
“Sebenarnya, hasil audit Menantea sudah keluar, dan sudah ketahuan berapa uang yang ditilep, angkanya hampir Rp10 M wkwkw. Dan itu jumlah yang aku dan Bang Jehian keluarin untuk nyelamatin Menantea, untuk cover semua biaya operasional, gaji, bahan baku, ganti rugi, dll,” tulis Jerome dalam pernyataannya.
Meski mengalami kerugian sebesar itu, menurut pernyataan Jerome, ia memilih tidak menyebut identitas partner dan tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.
Lima Tahun, Tutup Buku
Jehian mengumumkan penutupan Menantea melalui Instagram dan Threads pada 10 April 2026 — hampir bertepatan dengan hari ulang tahun kelima bisnis yang didirikan pada 10 April 2021 itu.
Hingga 25 April 2026, Menantea menggelar clearance sale dengan menjual minuman seharga Rp10.000 sebagai bentuk dukungan bagi mitra yang masih beroperasi.
Jerome menutup cerita ini dengan singkat:
“Pelajaran yang sangat penuh air mata, mahal dan berharga. Bersyukur Tuhan ganti berkali-kali lipat lewat usaha kami yang lain.”











