C&R TV, Jakarta — Di tengah kesuksesan besar Love & 10 Million Dollars yang melesat menjadi perbincangan publik dan menembus daftar trending di berbagai negara, satu hal lain ikut menempel pada nama Giorgino Abraham. Bukan soal pencapaian serialnya, melainkan label yang mulai ramai disematkan sebagian warganet akibat sejumlah adegan intim yang ia lakoni.
Bagi banyak aktor, stigma semacam itu bisa menjadi beban. Namun tidak bagi Giorgino. Aktor berusia 31 tahun tersebut justru memilih melihatnya sebagai bagian dari konsekuensi profesi yang sudah ia pahami sejak awal terjun ke dunia akting.
Saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026), pria yang akrab disapa Gino itu menegaskan bahwa dirinya tidak pernah merasa khawatir terhadap cap yang mungkin muncul dari peran-peran yang dimainkan.
“Aku tidak pernah takut dicap, ‘Oh ini Giorgino Abraham aktor yang memainkan adegan-adegan seperti itu’. Menurut aku itu menjadi bagian dari seorang aktor,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Ada Adegan Dewasa
Di balik sorotan publik terhadap adegan intim dalam Love & 10 Million Dollars, Gino menegaskan bahwa keputusan menerima sebuah proyek tidak pernah ditentukan oleh keberadaan adegan dewasa semata.
Baginya, ada banyak pertimbangan yang jauh lebih penting sebelum menandatangani sebuah kontrak. Cerita, sutradara, rumah produksi, hingga lawan main menjadi faktor utama yang selalu ia perhatikan.
“Bukan berarti semua adegan yang ada ‘gitunya’ pasti saya ambil, no. Esensi cerita itu penting buat saya. Sutradaranya siapa, PH-nya siapa, lawan mainnya siapa, itu semua dulu penting,” jelasnya.
Menurut Gino, adegan intim hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan cerita yang harus dilihat secara utuh. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa dirinya sengaja mencari proyek-proyek yang mengandalkan unsur dewasa untuk menarik perhatian penonton.
Realitas Syuting Tak Selalu Seperti yang Terlihat
Hal lain yang juga sering memicu rasa penasaran publik adalah bagaimana adegan intim sebenarnya dibuat di lokasi syuting.
Gino mengungkapkan bahwa apa yang tampil di layar sering kali berbeda jauh dengan situasi nyata saat proses produksi berlangsung. Berbagai teknik sinematografi digunakan untuk menciptakan ilusi visual yang mendukung kebutuhan cerita.
“Apa yang dilihat di tayangan belum tentu riilnya seperti itu. It’s real, tapi ada angle-angle trik kamera yang mengelabui penonton seakan-akan seekstrem itu adegannya, padahal riilnya tidak karena ada beberapa properti yang kita gunakan,” tuturnya.
Penjelasan tersebut menjadi gambaran bahwa banyak adegan yang terlihat berani sebenarnya dibangun melalui perencanaan teknis yang matang, bukan semata-mata seperti yang dibayangkan penonton.
Tantangan Terbesar Justru Rasa Canggung
Meski telah berpengalaman di depan kamera, Gino mengakui ada satu hal yang masih sering ia rasakan ketika menjalani adegan intim: rasa kikuk.
Menurutnya, adegan yang secara cerita terlihat personal justru harus dilakukan di hadapan banyak orang. Mulai dari kameramen, kru tata suara, penata cahaya, hingga tim tata rias berada di lokasi yang sama saat proses pengambilan gambar berlangsung.
“Siapa pun pasti akan merasa kikuk. Saya pun juga sering merasakan itu karena baru kenal sama lawan mainnya. Dan kita nggak berdua, dilihatin kameramen, soundman, lighting, makeup, wardrobe, semua perhatiin,” kenangnya sambil tertawa.
Karena itulah, Gino menilai keberadaan Intimacy Coordinator menjadi semakin penting dalam industri film dan serial modern. Selain membantu mengatur adegan, kehadiran mereka juga menciptakan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi para pemain.
Belajar dari Karakter Arman
Dalam Love & 10 Million Dollars, Gino memerankan Arman, sosok pria yang digambarkan memiliki kelemahan besar ketika berhadapan dengan perempuan.
Karakter tersebut menjadi salah satu elemen yang membuat perjalanan Arman penuh konflik sepanjang serial. Namun di luar layar, Gino berharap dirinya tidak mengikuti jejak karakter yang diperankannya.
Ia percaya setiap orang memiliki titik lemah masing-masing. Karena itu, pengalaman memerankan Arman justru memberinya pengingat tentang pentingnya bersikap bijak dalam menjalin hubungan.
“Di setiap manusia pasti punya titik lemah, weak spot. Dan ya itulah, berhati-hatilah dalam memilih sebuah pasangan. Saya harap saya nggak akan menjadi Arman yang lemah,” pungkasnya.
Kesuksesan Love & 10 Million Dollars mungkin membawa berbagai sorotan baru bagi Giorgino Abraham. Namun bagi sang aktor, label dan stigma tampaknya bukan sesuatu yang perlu ditakuti selama ia tetap percaya pada proses, profesionalisme, dan cerita yang ingin ia sampaikan lewat setiap peran yang dimainkan.











