C&R TV, Jakarta — Film “Barbie” (2023) yang menjadi fenomena global ternyata tidak bisa ditonton di Vietnam. Bukan soal konten dewasa, melainkan karena satu adegan menampilkan peta dengan “sembilan garis putus-putus” atau nine-dash line — simbol klaim teritorial Tiongkok di Laut China Selatan yang ditentang keras oleh pemerintah Vietnam.
Kasus “Barbie” hanya satu dari sederet film populer yang dilarang tayang bukan karena konten utamanya, melainkan karena detail-detail spesifik yang dianggap sensitif. Berikut tujuh di antaranya.
- “The Simpsons Movie” (2007) — Myanmar. Myanmar memberlakukan larangan penggunaan kombinasi warna kuning dan merah di media. Karena karakter dalam film ini identik dengan warna kuning cerah, film tersebut otomatis masuk daftar larangan.
- “Zoolander” (2001) — Malaysia. Film komedi Ben Stiller ini dilarang karena alur ceritanya melibatkan plot upaya pembunuhan Perdana Menteri Malaysia, yang dianggap tidak pantas untuk ditayangkan di dalam negeri.
- “Barbie” (2023) — Vietnam. Seperti disebut di atas, kehadiran nine-dash line dalam satu adegan cukup untuk membuat film ini dilarang beredar di Vietnam.
- “Spider-Man: Across the Spider-Verse” (2023) — Uni Emirat Arab & Arab Saudi. Film animasi ini gagal tayang di dua negara Timur Tengah tersebut karena sebuah poster di latar belakang adegan bertuliskan “Protect Trans Kids”. Konten yang berkaitan dengan simbol LGBTQ+ dianggap melanggar norma sensor setempat.
- “Bruce Almighty” (2003) — Mesir. Otoritas sensor Mesir melarang film ini karena dianggap menghina agama. Premis film — seorang manusia biasa yang diperankan Jim Carrey diberi kekuatan Tuhan — dinilai sebagai penistaan.
- “Battle Royale” (2000) — Jerman & Korea Selatan. Film cult classic asal Jepang ini sempat dilarang di kedua negara saat pertama kali dirilis karena tingkat kekerasan yang ekstrem, khususnya adegan anak sekolah yang saling membunuh, yang dikhawatirkan memicu aksi peniruan.
- “2012” (2009) — Korea Utara. Korea Utara melarang film bencana ini bukan karena isinya, melainkan karena tahun 2012 bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahiran pendiri negara, Kim Il-sung. Penggambaran 2012 sebagai “akhir dunia” dianggap sebagai pertanda buruk.











