C&R TV, Jakarta — Ketika pertama kali datang ke Indonesia sebagai remaja berusia 17 tahun, Jirayut mungkin tidak pernah membayangkan bahwa negeri yang awalnya menjadi tempat mengejar mimpi justru akan berubah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Delapan tahun berlalu, penyanyi asal Thailand itu bukan hanya berhasil membangun karier di dunia hiburan Indonesia. Ia juga menemukan sesuatu yang jauh lebih personal: rumah kedua yang memberinya kesempatan untuk membahagiakan keluarga dan mewujudkan impian yang dulu terasa jauh.
Kini, di usia 25 tahun, Jirayut mengaku sebagian besar masa mudanya dihabiskan di Indonesia. Karena itu, ia tak ragu menyebut negara ini memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidupnya.
“Alhamdulillah, rezeki aku lancar di Indonesia, jadi aku tetap di sini. Bayangkan, aku di sini dari umur 17 tahun sampai sekarang sudah 25 tahun. Masa remaja aku habis di sini,” ujar Jirayut saat berkunjung ke kantor redaksi Nyata di Jakarta Selatan, Senin (22/6/2026).
Kebahagiaan yang Tidak Bisa Diukur Popularitas
Di balik kesibukan sebagai penyanyi, presenter, hingga kini menjajal dunia film lewat Cek Khodam, Jirayut menyimpan rasa syukur yang lebih besar dari sekadar pencapaian karier.
Baginya, keberhasilan di Indonesia berarti kesempatan untuk membantu keluarga yang selama ini selalu mendukung langkahnya. Ia merasa bahagia karena dapat memenuhi kebutuhan orang-orang terdekat sekaligus mengangkat derajat kedua orang tuanya.
“Aku senang bisa bekerja di sini, bisa mengangkat derajat orang tua, membahagiakan mereka, dan mewujudkan keinginan serta kebutuhan orang terdekat. Itu yang membuat aku sangat bersyukur,” tuturnya.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya terjadi sekitar setahun terakhir. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, Jirayut akhirnya bisa membawa sang ibu, Amalina Hayati, untuk tinggal bersamanya di Indonesia.
Kehadiran sang ibu ternyata membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-harinya. Jirayut mengaku dulu sering mengalami masalah kesehatan karena pola makan yang kurang teratur akibat kesibukan dan kebiasaan sering berada di luar rumah.
“Dulu waktu Mama belum ada, aku sering sakit-sakitan karena makan sembarangan, maklum anak muda suka nongkrong sana-sini. Pas ada Mama, Mama yang masak, jadi aku jarang makan di luar dan lebih sehat,” ungkapnya.
Lebih Dikenal di Indonesia
Meski berasal dari Thailand, Jirayut merasa kariernya berkembang lebih pesat di Indonesia. Bahkan ketika diminta membandingkan tingkat popularitasnya di dua negara, ia menjawab dengan jujur.
“Kalau soal ketenaran, mungkin perbandingannya 50 di Thailand dan 100 di Indonesia. Di sini jauh lebih banyak yang kenal,” katanya.
Ia mengaku sempat mendapat tawaran pekerjaan di negara asalnya. Namun hingga kini, Indonesia tetap menjadi prioritas utama untuk membangun karier.
“Lagipula, budget (honor) di Indonesia lebih tinggi, hahaha,” ujarnya sambil tertawa.
Impian Baru dan Masa Depan
Setelah dikenal sebagai penyanyi dangdut dan pembawa acara, Jirayut kini mulai menjajal dunia akting. Meski baru menjadi pemeran utama dalam film horor komedi, ia sudah memiliki impian berikutnya.
Jirayut ingin suatu hari bisa membintangi film laga yang memungkinkannya menunjukkan kemampuan Muay Thai, seni bela diri yang berasal dari Thailand.
“Wah, kalau boleh memilih, aku pengen banget nyobain genre full action. Kayaknya seru banget kalau bisa main film laga yang intens. Apalagi kalau ada unsur bela diri seperti Muay Thai, karena itu kan berasal dari negara asal aku,” jelasnya.
Di tengah berbagai pencapaian tersebut, pertanyaan mengenai kemungkinan dirinya menjadi Warga Negara Indonesia juga masih sering muncul. Namun untuk saat ini, Jirayut memilih menikmati perjalanan yang sedang dijalani dan menyerahkan masa depan pada waktu.
“Kalau untuk urusan kewarganegaraan, jujur aku saat ini lebih memilih untuk menjalani apa yang ada sekarang saja. Masa depan kan kita tidak pernah tahu, jadi aku minta doanya saja yang terbaik,” katanya.
Bagi Jirayut, perjalanan dari Narathiwat menuju Indonesia ternyata membawa lebih dari sekadar karier yang sukses. Di negeri yang kini dianggap rumah kedua itu, ia menemukan kesempatan untuk tumbuh, membahagiakan keluarga, dan menulis babak baru dalam kehidupannya.













