C&R TV, Jakarta — Tanpa satu pun layar bioskop komersial, film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita telah diputar di lebih dari 500 titik nonton bareng di seluruh Indonesia. Angka itu tercatat per 8 Mei 2026 — kurang dari dua bulan sejak film ini pertama kali diperkenalkan ke publik.
Jangkauan itu datang bukan dari jaringan distribusi studio, melainkan dari program nobar mandiri yang bisa diselenggarakan siapa saja — dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan panitia.
Pesta Babi adalah dokumenter investigatif berdurasi sekitar 95 menit yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Film ini mengangkat dampak proyek strategis nasional di Papua terhadap kehidupan masyarakat adat — mulai dari pembukaan lahan untuk perkebunan tebu dan sawit hingga proyek pangan berskala besar.
Wilayah yang menjadi fokus dokumenter ini adalah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Di sana, suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu digambarkan menghadapi tekanan akibat ekspansi pembangunan yang mengubah kawasan hutan dan lahan adat mereka.
Selain konflik agraria, film ini juga menyentuh persoalan hak tanah adat, perubahan sosial, dan keberlangsungan budaya masyarakat Papua di tengah agenda pembangunan nasional.
Makna di Balik Judul
Judul Pesta Babi diambil dari tradisi masyarakat Papua di mana babi memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya. Dalam sejumlah tradisi adat setempat, pesta babi menjadi simbol hubungan sosial, perdamaian, dan ritual yang mengikat komunitas.
Ekspedisi Indonesia Baru melalui akun Instagram resminya mendefinisikan film ini secara langsung. “Pesta Babi adalah film dokumenter yang merekam perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah leluhur dari ekspansi proyek industri raksasa atas nama ketahanan pangan dan transisi energi, di tengah bayang-bayang militerisme hingga separatisme,” tulis akun tersebut.
Film ini diproduksi dengan keterlibatan sejumlah organisasi lingkungan dan advokasi masyarakat adat: Greenpeace Indonesia, WatchDoc, Yayasan Bentala Pusaka, dan Jubi.id.
Pesta Babi pertama kali diputar dalam gala premier di Taman Ismail Marzuki pada 12 April 2026. Film ini kemudian diputar di Wolf Kino, Berlin, Jerman, pada 14 April 2026, sebelum hadir di Columbia University pada 25 April 2026.
Rangkaian pemutaran di tiga kota itu memperluas jangkauan film ke kalangan akademisi dan pegiat lingkungan internasional, sebelum program nobar massal diluncurkan di dalam negeri.
Cara Daftar Nobar
Ekspedisi Indonesia Baru membuka program bertajuk “Musim Nobar” yang memungkinkan komunitas, mahasiswa, dan warga mengadakan pemutaran secara mandiri. Pendaftaran dilakukan secara daring melalui formulir resmi, dengan narahubung di nomor 0823-2301-8859.
Berikut ketentuan yang wajib dipenuhi penyelenggara nobar:
- Peserta minimal 10 orang
- Kegiatan wajib dipublikasikan di media sosial
- Wajib menandai akun Ekspedisi Indonesia Baru, Jubi News, Yayasan Pusaka, WatchDoc, dan Greenpeace Indonesia
- Wajib menggunakan tagar #PestaBabi dan #PapuaBukanTanahKosong
- Film dilarang disebarluaskan dalam bentuk apapun
- Dokumentasi kegiatan wajib dikirim kepada panitia
- Tautan film akan dikirim H-2 sebelum jadwal pemutaran
Panitia juga membuka pengumpulan tiket sukarela dari peserta. Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu pengungsi Papua melalui lembaga kemanusiaan.











