C&R TV, Jakarta — Di tengah hidup yang nyaris selalu dipenuhi jadwal dan keramaian, Ivan Gunawan ternyata menyimpan satu pengalaman yang diam-diam mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal. Bukan tentang dunia hiburan atau pekerjaannya yang padat, melainkan sebuah momen sunyi yang ia alami saat menjalani ibadah haji seorang diri.
Cerita itu kembali ia bagikan saat menjadi pembicara dalam acara Rumah Sahabat BCA Syariah di Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (20/6/2026) siang. Di hadapan publik, Ivan membuka sisi kehidupannya yang jarang terlihat, tentang bagaimana ia baru benar-benar memahami arti kesendirian setelah sekian lama hidup di tengah kesibukan tanpa jeda.
Ia mengakui bahwa selama bertahun-tahun hampir tidak pernah benar-benar merasakan sepi. Dari pekerjaan yang terus berjalan, proyek yang silih berganti, hingga orang-orang yang selalu ada di sekelilingnya, hidupnya selalu terasa penuh sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat di malam hari.
“Ivan selalu ada kegiatan, ada pekerjaan, ada orang-orang di sekitar saya. Dari bangun tidur sampai menjalani aktivitas sehari-hari, hampir enggak pernah benar-benar sendiri,” ceritanya.
Titik Balik di Tanah Suci
Semua itu mulai berubah ketika Ivan menjalani ibadah haji seorang diri pada tahun lalu. Di tengah perjalanan spiritual itu, ia justru menemukan ruang yang sama sekali berbeda dari kehidupan sehari-harinya—ruang sunyi yang membuatnya berhenti sejenak dari segala riuh dunia.
Di Tanah Suci, sebagian besar aktivitas ia jalani tanpa banyak keramaian di sekitarnya. Dari ibadah hingga momen-momen refleksi pribadi, semua itu perlahan membuka cara pandangnya tentang apa arti benar-benar “sendiri”.
Dari pengalaman itulah ia menyadari sesuatu yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya: bahwa kesendirian tidak selalu terasa berat.
“Ternyata perjalanan haji tahun lalu membuat saya sadar, sendiri itu jauh lebih enak daripada ramai-ramai,” ungkap Ivan.
Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Lebih jauh, pengalaman itu juga mengubah cara Ivan memandang hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ia menyebut bahwa dalam hidup, orang sering kali terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain hingga lupa bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan perhatian.
Menurutnya, justru diri sendiri adalah “sahabat” yang paling penting untuk dikenali dan dijaga, meski sering kali paling terlupakan.
“Ternyata sahabat yang paling harus kita selamatkan dan dekatkan dari hati kita adalah diri kita sendiri,” tuturnya.
Dari titik itu, Ivan mulai memahami bahwa ketika seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri, rasa kosong dan takut yang sering muncul perlahan bisa berkurang. Kesendirian pun tidak lagi terasa seperti kekurangan, melainkan ruang untuk mengenali diri lebih dalam.
Perubahan Cara Pandang Hidup
Pengalaman spiritual itu kemudian menjadi titik balik yang membekas dalam hidupnya. Ivan menyebut perjalanan haji tersebut bukan hanya ibadah, tetapi juga proses panjang untuk memahami dirinya sendiri dengan cara yang berbeda.
“Itu pengalaman yang sangat berkesan buat saya dan mengubah banyak cara pandang saya terhadap hidup,” pungkasnya.
Kini, pengalaman itu menjadi salah satu momen penting yang membentuk cara Ivan Gunawan melihat kehidupan—bahwa dalam kesunyian, ia justru menemukan sesuatu yang selama ini tidak ia sadari: kedekatan dengan dirinya sendiri.











