C&R TV, Jakarta — Ruang tunggu sekolah anak-anak menjadi saksi bisu awal pertemuan mereka. Di antara deretan kursi dan cerita tentang tumbuh kembang buah hati, Tantri Kotak dan Popi Novitasari mulai akrab. Berbagi keluh kesah sebagai ibu, bertukar cerita, hingga akhirnya saling percaya. Hubungan itu terus erat selama hampir lima tahun.
Mereka bukan sekadar teman. Tantri bahkan mengakui keduanya sering menghabiskan waktu di luar urusan sekolah, termasuk berlibur bersama keluarga. Tak ada yang ganjil. Semua terlihat baik-baik saja. Hingga suatu hari, Popi menyampaikan satu permintaan yang terdengar lugu.
“Awalnya, ‘Gue butuh bantuan, eh invest deh, gitu, biar gue tuh stabil di posisi pekerjaan’,” kenang Tantri menirukan ucapan Popi saat ditemui di Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (27/6).
Sebagai tenaga penjual di sebuah perusahaan, Popi mengaku butuh suntikan dana untuk menjaga performa kerjanya. Tantri dan teman-teman di komunitas ibu-ibu itu tak berpikir panjang. Mereka tahu Popi adalah seorang ibu tunggal yang harus membiayai dua anak seorang diri. Niat membantu pun mengalahkan segala kecurigaan.
“Karena memang kita basic-nya teman dan nggak melihat yang gimana-gimana dan kita tahu banget gitu dia punya anak, dia seorang ibu yang memang single mother, background-nya itu. Pengin bantu gitu,” ujar Tantri.
Pada tahun pertama, investasi yang ditawarkan Popi berjalan mulus. Uang kembali. Kepercayaan pun menguat. Pelan tapi pasti, para korban—termasuk Tantri—terjerat dalam jebakan yang dirancang rapi. Popi disebut sangat piawai memainkan sisi psikologis dan emosional orang-orang terdekatnya.
“Dia jago banget psikologis, jago banget menata psikologis semua teman-temannya gitu, dan jago banget mengecap, meyakinkan semua teman-temannya kalau dia tuh adalah orang yang butuh dibantu dan dia pengen ngebantu gitu,” jelas Tantri.
Kesadaran mulai datang perlahan ketika Tantri memperhatikan aliran uangnya yang tak kunjung bertambah. Setiap kali dana investasi cair, Popi selalu muncul dengan tawaran kontrak baru. Janjinya menggoda: pencairan lebih cepat, keuntungan lebih besar. Tanpa sadar, uang yang baru saja masuk langsung diputar lagi ke lubang yang sama.
“Ternyata aku baru ngeh, setiap kali aku dapat pencairan tuh dia selalu nawarin satu hal kontrak baru, kontrak baru. Jadi aku cair aku masukin, aku cair aku masukin. Nah aku bingung sama cash flow, kok nih kok aneh ya, duit gue kok segini-gini aja ya, kok malah ilang-ilangan terus ya,” ungkapnya.
Puncaknya terjadi pada 19 Juni 2026. Setelah transfer terakhir dikirim, Popi Novitasari dan kedua anaknya lenyap tanpa jejak. Tak ada kabar. Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang meninggalkan tanya dan luka di hati puluhan orang yang selama ini percaya.
Kini, Tantri bersama korban lainnya memilih tak tinggal diam. Jalur hukum menjadi satu-satunya jalan untuk mengungkap kasus dan memulihkan keadilan yang telah dirampas oleh orang yang dulu disebut teman.













