Dari Teman Jadi Tersangka, Perjalanan Kelam Investasi Bodong Tantri Kotak

Dari Teman Jadi Tersangka, Perjalanan Kelam Investasi Bodong Tantri Kotak
Bukan cuma uang Rp10 miliar, ada nyawa temannya yang jadi taruhan di kasus ini.
banner-ad

C&R TV, Jakarta — Bukan sekadar angka di rekening yang melayang. Vokalis band Kotak, Tantri, kehilangan kepercayaan pada seseorang yang ia anggap dekat—sosok yang kini harus ia hadapi di meja hijau. Kerugian fantastis mencapai Rp10 miliar akhirnya memaksanya mengambil langkah tegas meskipun hati masih dipenuhi tanya.

Tantri dan puluhan korban lainnya telah memutuskan untuk tak lagi memberi ruang pada itikad baik yang tak kunjung datang. Mereka bersiap menyeret Popi Novitasari—sahabat sekaligus terduga pelaku—ke ranah hukum.

Baca Juga

“Karena korbannya banyak, jadi kami lagi mengatur seperti apa ke depannya. So far memang akan ada langkah ke sana (laporan polisi). Kami juga lagi diskusi sama kuasa hukum dan lain-lain. Mohon doanya banget,” ucap Tantri kepada wartawan di kawasan Jakarta Selatan.

Namun, di balik keputusan berlaporkan itu, ada satu cerita yang membuat bulu kuduk merinding. Bukan tentang uang Tantri yang lenyap, melainkan nasib temannya sendiri yang turut menjadi korban. Uang yang seharusnya digunakan untuk melawan kanker justru raib ditelan pelaku, meninggalkan pilihan hidup mati yang tak manusiawi.

“Pilihannya antara gue meninggal atau gue dipenjara karena gue bertanggung jawab sama investor itu. Itu kata temenku,” kenang Tantri dengan suara bergetar.

Sembari menahan luka, pelantun “Pelan-Pelan” ini mengakui ia berusaha memaafkan. Namun ia sadar, ada konsekuensi yang harus dibayar oleh siapa pun yang merenggut hak orang lain—terlebih saat nyawa menjadi taruhannya.

“Jadi kalau secara manusia, aku mencoba memaafkan, tapi tetap harus ada yang dipertanggungjawabkan. Segala yang dia lakukan pasti ada konsekuensi,” tegasnya.

Baca Juga

Di sisi lain, rumah tangga Tantri dan Arda Naff juga diuji. Suami yang juga personel Naff itu melihat istrinya perlahan diliputi beban psikologis yang menggerogoti hari-harinya. Tantri kerap murung dan memikul rasa bersalah yang seharusnya tak ia tanggung seorang diri.

“Tantri mengalami kerugian secara psikis. Dia murung. Saya bilang, kalau pasangan saling menyalahkan ‘ini salahmu, ini salahku’, ya berhenti kita, cerai kita. Tapi kita harus tetap jalan. Saya mengizinkan kami marah, tapi jangan sampai marahnya merugikan diri sendiri,” ujar Arda penuh ketegasan.

Menurut Arda, pelaku bukanlah sosok amatiran. Popi Novitasari bergerak begitu terstruktur hingga membuat semua jejaknya lenyap dalam sekejap. Dari grup percakapan, akun media sosial, hingga tempatnya bekerja—semua ditinggalkan tanpa bekas.

“Nomor telepon, social media dia sampai ke anak-anaknya juga hilang. Langsung left grup di hari itu juga. Kok bisa dengan terstruktur ngilangin jejak? Kalau mungkin tertidur kan nggak mungkin hapus sosial media semua, nomor left grup semua, bahkan keluar dari kantornya,” jelas Arda heran.

Di tengah gelapnya jalan pencarian keadilan, Tantri memilih satu hal yang bisa ia lakukan: menyebutkan nama Popi Novitasari kepada publik. Bukan untuk balas dendam, melainkan sebagai tameng agar tak ada lagi korban berjatuhan di masa depan.

“Namanya Popi Novitasari. Saya harus sebut namanya karena saya pengin minimal namanya tertera di manapun untuk tidak lagi ada korban selanjutnya. Saat ini titik terangnya masih gelap, gelap gulita,” tutup Tantri dengan nada lirih namun penuh tekad.

Yuk, update terus kabar viral dan breaking news bareng Cek&Ricek TV! Langsung subscribe channel YouTube kami di: https://www.youtube.com/@ceknricektv. Jangan lupa aktifkan lonceng notifikasinya biar nggak ketinggalan video terbaru!
banner-ad

Pos terkait

banner-ad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *