Banyak yang Mengira Soal Genetik, Padahal Kebiasaan Ini Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Close,up,of,women,disease,mammary,cancer,patient,with,pink
Banyak orang fokus pada faktor keturunan, padahal kebiasaan sehari hari juga bisa memengaruhi risiko penyakit ini
banner-ad

C&R TV, Jakarta — Ketika mendengar kanker payudara, banyak orang langsung mengaitkannya dengan faktor keturunan. Padahal, para ahli menilai risiko penyakit ini tidak hanya dipengaruhi oleh riwayat keluarga. Kebiasaan yang dilakukan setiap hari, mulai dari apa yang diminum, makanan yang dipilih, hingga seberapa aktif seseorang bergerak, juga dapat berperan dalam meningkatkan ataupun menurunkan risiko.

Kesadaran akan hal ini menjadi semakin penting karena kanker payudara masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar bagi perempuan di seluruh dunia. Bahkan, penyakit ini merupakan kanker yang paling banyak didiagnosis pada perempuan secara global. Menariknya lagi, sebagian besar kasus tidak selalu berhubungan dengan faktor genetik yang kuat, sehingga gaya hidup menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.

Baca Juga

Salah satu kebiasaan yang paling sering disebut para ahli adalah konsumsi alkohol. Meski banyak orang menganggapnya sebagai bagian dari gaya hidup sosial, alkohol diketahui dapat memengaruhi hormon di dalam tubuh dan meningkatkan kadar estrogen, yaitu hormon yang berperan dalam perkembangan sebagian jenis kanker payudara.

Selain itu, saat tubuh memecah alkohol, akan terbentuk senyawa bernama asetaldehida yang dapat memicu kerusakan DNA. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat konsumsi alkohol secara berlebihan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Ahli gizi Kate Dwyer menjelaskan bahwa hubungan antara alkohol dan kanker payudara sudah cukup konsisten ditemukan dalam berbagai penelitian.

“Alkohol adalah salah satu faktor yang memiliki hubungan cukup konsisten dengan peningkatan risiko kanker payudara,” ujarnya.

Karena itu, mengurangi konsumsi alkohol, bahkan dalam jumlah kecil, dapat memberikan manfaat kesehatan yang berarti dan menjadi langkah awal untuk menekan risiko penyakit ini.

Kebiasaan lain yang juga sering tidak disadari adalah terlalu sering mengonsumsi makanan ultra processed foods atau makanan ultra proses. Jenis makanan ini sebenarnya tidak selalu berbahaya jika dikonsumsi sesekali. Namun, masalah muncul ketika makanan cepat saji dan produk olahan menjadi menu utama yang dikonsumsi hampir setiap hari.

Saat pola makan didominasi makanan ultra proses, seseorang cenderung lebih jarang mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi, seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, maupun lentil. Padahal, kelompok makanan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra processed foods secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Karena itu, para ahli menyarankan agar pola makan sehari-hari lebih banyak diisi dengan bahan makanan nabati yang segar dan beragam agar kebutuhan nutrisi tubuh tetap terpenuhi.

Selain makanan dan minuman, tingkat aktivitas fisik juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Gaya hidup yang minim gerak diketahui dapat meningkatkan risiko kanker payudara karena tubuh kehilangan banyak manfaat yang diperoleh dari aktivitas fisik secara rutin.

Olahraga membantu mengatur kadar estrogen, meningkatkan sensitivitas insulin, sekaligus mengurangi peradangan yang berkaitan dengan perkembangan beberapa jenis kanker payudara. Manfaat tersebut tidak selalu terlihat dari perubahan berat badan, tetapi bekerja melalui berbagai mekanisme biologis yang menjaga kesehatan tubuh.

Ahli gizi Jess Baker menegaskan bahwa olahraga memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar membantu seseorang menjadi lebih kurus.

“Olahraga membantu menurunkan risiko kanker payudara melalui pengaruhnya terhadap hormon dan peradangan,” katanya.

Menurut American Cancer Society, orang dewasa disarankan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit setiap minggu. Aktivitas tersebut dapat berupa jalan cepat, bersepeda, berenang, berkebun, menari, atau berolahraga di pusat kebugaran sesuai kemampuan masing-masing.

Di samping menerapkan pola hidup sehat, masyarakat juga dianjurkan untuk mengetahui riwayat kesehatan keluarga, menjalani mammogram secara rutin, serta berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi kesehatan masing-masing. Sebab, menjaga kesehatan bukan hanya soal menghindari penyakit, tetapi juga memahami tubuh sendiri dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin.

Yuk, update terus kabar viral dan breaking news bareng Cek&Ricek TV! Langsung subscribe channel YouTube kami di: https://www.youtube.com/@ceknricektv. Jangan lupa aktifkan lonceng notifikasinya biar nggak ketinggalan video terbaru!
banner-ad

Pos terkait

banner-ad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *