C&R TV, Jakarta — Rahma Sarita mengingatkan para pelari untuk tidak memaksakan diri berolahraga saat cuaca sedang terik. Menurutnya, berlari di bawah paparan sinar matahari yang menyengat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, termasuk heat stroke atau sengatan panas.
Perempuan yang aktif mengikuti berbagai ajang lari tersebut mengaku selalu menghindari latihan saat matahari sedang berada di puncak teriknya. Baginya, keselamatan dan kesehatan harus menjadi prioritas utama dibanding mengejar target latihan.
“Kalau terik jangan lari. Itu bunuh diri,” kata Rahma.

Menurut Rahma, cuaca panas membuat tubuh bekerja lebih keras saat berlari. Detak jantung meningkat lebih cepat, cairan tubuh terkuras lebih banyak, dan risiko kelelahan menjadi lebih tinggi dibandingkan saat berolahraga pada suhu yang lebih sejuk.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dapat memicu heat stroke, yakni keadaan darurat medis ketika suhu tubuh meningkat drastis akibat paparan panas berlebih dan tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan diri secara normal.
“Kalau cuaca terlalu panas, heart rate bisa tinggi sekali. Itu yang harus diwaspadai karena bisa menyebabkan heat stroke,” ujarnya.

Karena alasan itu, Rahma memilih berlari pada waktu yang lebih aman, yakni sebelum matahari terbit atau saat suhu udara masih relatif rendah. Ia mengaku biasanya sudah menyelesaikan latihan ketika banyak orang baru memulai aktivitas pagi.
“Saya biasanya lari subuh. Jadi saat matahari mulai panas, latihan sudah selesai,” katanya.
Selain menghindari cuaca terik, Rahma juga menekankan pentingnya menjaga asupan cairan tubuh. Menurutnya, dehidrasi menjadi salah satu ancaman terbesar bagi pelari yang berolahraga di tengah suhu tinggi.

Tubuh yang kehilangan terlalu banyak cairan tidak hanya akan mengalami penurunan performa, tetapi juga berisiko mengalami pusing, kram otot, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius.
Sebagai pelari yang rutin mengikuti half marathon, Rahma memahami pentingnya mengenali kondisi tubuh sebelum memulai latihan. Ia menilai banyak pelari pemula yang terlalu fokus pada target jarak dan waktu, namun kurang memperhatikan faktor cuaca yang sebenarnya sangat berpengaruh terhadap keselamatan.
“Jangan memaksakan diri. Kalau cuaca memang terlalu panas, lebih baik cari waktu lain untuk latihan,” ujarnya.

Rahma juga mengingatkan bahwa olahraga seharusnya memberikan manfaat bagi kesehatan, bukan justru menjadi penyebab masalah kesehatan akibat dilakukan secara berlebihan atau tanpa memperhatikan kondisi lingkungan.
Menurutnya, disiplin memilih waktu latihan yang tepat merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat yang harus diterapkan setiap pelari.
“Tujuan olahraga itu supaya sehat. Jadi jangan sampai kita mengabaikan keselamatan hanya karena ingin mengejar target latihan,” tuturnya.
Bagi Rahma, berlari di pagi hari bukan hanya membuat latihan lebih nyaman, tetapi juga membantu menjaga performa tubuh tetap optimal. Dengan cuaca yang lebih bersahabat, pelari dapat menikmati olahraga secara maksimal tanpa harus menghadapi risiko berlebihan akibat paparan panas matahari.











