Beratnya Bertahan di Dunia Kerja, 5 Film China tentang PHK yang Bikin Sedih dan Merenung

Beratnya Bertahan Di Dunia Kerja, 5 Film China Tentang Phk Yang Bikin Sedih Dan Merenung
Seorang komedian berubah menjadi kurir, seorang buruh berpura-pura memiliki hotel, semuanya dimulai dari satu surat pemecatan.
banner-ad

C&R TV, Jakarta — Ada yang menertawakan nasib sendiri di ruang rapat kantor yang serba kaku. Ada pula yang hanya bisa diam, berdiri di antara reruntuhan pabrik yang dulu menjadi sumber kehidupan.

Di antara dua titik itu, sinema China menyimpan puluhan cerita tentang pemutusan hubungan kerja yang terasa lebih dari sekadar kehilangan gaji bulanan. Industri film negeri itu memang sering menempatkan PHK sebagai pintu masuk menuju drama personal yang menghantam harga diri, keluarga, dan arah hidup seseorang. Lima di antaranya punya cara unik untuk membuat kita merenung.

Baca Juga

Lima Wajah PHK di Sinema China

Dong Runnian tahu betul bahwa ancaman pemecatan bisa terasa seperti lelucon pahit. Dalam Johnny Keep Walking! (2023), ia meramu satire yang menusuk budaya kantor. Judul aslinya, Nianhui Buneng Ting!—yang berarti “Rapat Tahunan Tak Bisa Dihentikan”—sudah menunjukkan absurditas birokrasi yang ia kritik.

Seorang buruh pabrik tiba-tiba harus berkutat di kantor pusat saat restrukturisasi terjadi.

Di balik humornya yang kadang slapstick, film ini memotret kecemasan para pekerja kerah biru yang sewaktu-waktu bisa terlempar dari sistem. Tidak heran jika karya Dong Runnian melesat menjadi salah satu film komedi tersukses tahun itu.

Lebih dari 1,3 miliar yuan terkumpul dari tawa yang getir.

Aktor Da Peng, yang memerankan protagonis, punya latar komedi crosstalk yang membuat karakternya terasa begitu dekat dengan “wong cilik” yang selalu cemas akan nasib sendiri.

Baca Juga

Bergeser dari satire, Xu Zheng menghadirkan luka yang lebih personal. Dalam Upstream (2024), ia tidak hanya duduk di kursi sutradara, tapi juga memerankan Gao Zhilei—seorang programmer paruh baya yang terpaksa melepas seragam kantor dan beralih menjadi kurir makanan setelah di-PHK. Sebagai aktor komedi papan atas, Xu Zheng menunjukkan sisi getir yang jarang ia perlihatkan sebelumnya.

Ia pernah menyaksikan sendiri perjuangan para kurir saat pandemi, dan pengalaman itu ia tuangkan ke dalam setiap adegan Upstream.

Mencari pekerjaan baru di usia yang tak lagi muda menjadi tembok tinggi yang nyaris tak terpanjat. Bersama Xin Zhilei yang berperan sebagai istrinya, Xu Zheng membangun kisah tentang gengsi, tanggung jawab, dan rasa takut yang diam-diam menggerogoti meja makan keluarga.

Dari programmer yang kehilangan pekerjaan, kita mundur ke tahun 2000. Zhang Yimou, sutradara kenamaan di balik Hero dan Raise the Red Lantern, menyentuh tema PHK dengan cara yang berbeda. Happy Times dibintangi Zhao Benshan—komedian legendaris China—yang kali ini memerankan seorang mantan pekerja pabrik.

Ia kehilangan pekerjaan. Lalu ia berpura-pura memiliki hotel mewah.

Semua kebohongan itu ia lakukan demi menolong seorang gadis buta, diperankan oleh Dong Jie, sambil berusaha menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya di tengah perubahan ekonomi China yang kian menggusur. Komedi gelap ini berubah menjadi hubungan ayah-anak pengganti yang menghangatkan sekaligus mengiris hati.

Jika Happy Times menyoroti beban moral seorang pekerja, Factory Boss (2014) membalik sudut pandang ke sisi pengusaha. Sutradara Zhang Wei mengikuti dilema seorang pemilik pabrik mainan di Guangdong. Pesanan besar tiba-tiba dibatalkan pembeli luar negeri, dan ia harus memilih: menyelamatkan usahanya atau membayar upah ratusan buruh.

Film ini memenangkan penghargaan di Festival Film Internasional Shanghai, dan alasannya jelas.

Diperankan oleh Yao Anlian, sang bos bukanlah antagonis serakah. Ia hanyalah orang kecil yang ikut terperas dalam roda globalisasi, sama rentannya dengan para pekerjanya sendiri.

Kesunyian Sembilan Jam di Bekas Pabrik

Lalu sampailah kita pada karya yang boleh jadi paling monumental dalam daftar ini. Tie Xi Qu: West of the Tracks (2002) bukan film fiksi. Wang Bing, sutradaranya, merekam kenyataan tanpa skenario. Selama tahun 1999 hingga 2001, kameranya menyusuri distrik industri Tiexi di Shenyang yang perlahan mati.

Penutupan pabrik baja dan peleburan melempar puluhan ribu buruh ke jurang pengangguran. Satu per satu cerobong berhenti mengepul.

Wang Bing tidak menambahkan narasi, musik latar, atau wawancara yang mengarahkan. Ia hanya merekam. Sembilan jam durasi film seakan memaksa kita duduk di antara para mantan buruh yang berjalan tanpa tujuan di antara besi-besi tua. Kesunyian itu memekakkan. Penghargaan dokumenter dari Festival Film Marseille 2003 dan pemilihannya dalam daftar film terbaik sepanjang masa versi Sight & Sound menegaskan bahwa Tie Xi Qu bukan sekadar tontonan, tetapi kesaksian sejarah.

Di antara tawa satire Johnny Keep Walking! dan keheningan Tie Xi Qu, terbentang spektrum emosi yang lengkap. Kelima film ini tidak hanya memotret PHK sebagai angka di berita ekonomi. Mereka membiarkan kita duduk di kursi para korbannya—menatap layar komputer yang mati, mengepak kotak makan siang kurir, atau sekadar berdiri memandangi pabrik yang tak lagi hidup.

Yuk, update terus kabar viral dan breaking news bareng Cek&Ricek TV! Langsung subscribe channel YouTube kami di: https://www.youtube.com/@ceknricektv. Jangan lupa aktifkan lonceng notifikasinya biar nggak ketinggalan video terbaru!
banner-ad

Pos terkait

banner-ad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *