C&R TV, Jakarta — Ada yang berbeda dari langkah karier Jirayut kali ini. Bukan panggung musik yang ia datangi, bukan mikrofon yang ia genggam. Kali ini, pria asal Thailand itu melangkah ke dunia yang asing baginya: layar lebar.
Namun, di balik keputusannya menerima tawaran sebagai pemeran utama film horor komedi “Cek Khodam”, ada cerita panjang tentang keraguan, ketakutan, dan akhirnya—keberanian yang datang dari sosok terdekat.
Jirayut tak memungkiri bahwa awalnya ia ragu. Sangat ragu. Penyanyi yang sudah terbiasa tampil di atas panggung itu tiba-tiba merasa tak percaya diri ketika ditawari peran film.
“Pertama kali itu emang saya agak ragu. Agak ragu untuk mau ngambil karena apa ya, nggak percaya diri juga. Karena takutnya mengecewakan orang-orang gitu,” ujar Jirayut di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Keraguan itu makin menjadi ketika ia sadar bahwa jam terbangnya di dunia film masih sangat tipis. Ini adalah debut pertamanya. Dan bukan sembarang debut—langsung sebagai peran utama.
“Apalagi kan dipercaya sama Dee Company, Cek Khodam-nya itu langsung jadi peran utama gitu kan. Wah, saya langsung mikir gimana ya? Bisa nggak ya ini aku?” kenangnya.
Bahkan, Jirayut sempat tidak sanggup membaca sinopsis yang dikirimkan tim produksi. Terlalu panjang, katanya. Ia minta agar cerita dijelaskan lewat telepon—sebuah detail kecil yang menunjukkan betapa gugupnya ia menghadapi tantangan baru ini.
“Pas dikirim ceritanya itu saya nggak bisa baca karena panjang banget. Jadi saya bilang, boleh nggak sih telepon buat jelasin? Saya jadi apa dan ceritanya kayak apa?” ungkapnya.
Namun, semua keraguan itu lenyap dalam sekejap ketika ibunya datang. Tanpa banyak kata, sang mama yang dikenal sebagai penggemar berat film horor memberikan kalimat yang langsung menusuk hati Jirayut.
“Tiba-tiba mamaku datang, mamaku langsung bilang gini, ‘Ayo lah ambil Nak’. ‘Gimana ya, Ma?’ Aku langsung mikir,” beber Jirayut.
Kalimat berikutnya dari sang ibu, ia akui, adalah titik balik. Mama bilang, “Nak, ambil aja soalnya kan mama kan pengin lihat muka anak mama di layar besar.” Dan satu lagi yang membuatnya tak kuasa menolak: “Biar mama tengok kamu di layar besar gitu, biar biasanya mama tengok orang sekarang tengok kamu.”
Pesan sederhana dari seorang ibu yang hanya ingin melihat putranya berkilau di layar bioskop itulah yang akhirnya mengubah segalanya. Rasa takut digantikan tekad. Keraguan berubah menjadi keberanian. Jirayut akhirnya mengucapkan satu kata: oke.
“Dari situlah langsung mendorong kayak, oke, aku harus bisa melewati challenge ini,” pungkasnya.
Film “Cek Khodam” sendiri mengangkat fenomena konten mistis yang belakangan ramai menjadi hiburan masyarakat, terutama di ruang digital. Diproduseri oleh Dheeraj Kalwani dan disutradarai Jeropoint, film ini juga dibintangi Saputra Kori, Benidictus Siregar, Angie Williams, Fahira Almira, Roewina Umboh, dan Fanny Fadillah.
Bagi Jirayut, peran sebagai Sakti dalam film ini bukan sekadar debut. Ini adalah perwujudan mimpi ibunya. Dan pada 16 Juli 2026, seluruh Indonesia akan melihatnya—bukan di panggung, bukan di layar ponsel, melainkan di layar bioskop yang besar. Persis seperti yang mama inginkan.













