Pasrahkan Jodoh pada Semesta, Dinda Kanyadewi Tak Anggap Melajang Sebagai Beban

Pasrahkan Jodoh Pada Semesta, Dinda Kanyadewi Tak Anggap Melajang Sebagai Beban
Tujuh tahun melajang tak membuat Dinda Kanyadewi gelisah, ia menyerahkan jodoh pada semesta dengan prinsip yang justru makin kokoh.
banner-ad

C&R TV, Jakarta — Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Bagi sebagian orang, melajang selama itu mungkin terasa seperti kemarau panjang yang menunggu hujan. Tapi tidak bagi Dinda Kanyadewi.

Aktris yang namanya melejit lewat sinetron Cinta Fitri itu justru menjalani tujuh tahun kesendiriannya dengan ketenangan yang sulit diganggu gugat. Tak ada gelisah. Tak ada target yang dikejar. Bahkan, pernikahan pun belum menjadi prioritas yang ingin ia tuntaskan dalam waktu dekat.

Baca Juga

Saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin lalu, Dinda mengungkapkan semuanya dengan ekspresi yang sulit dibaca apakah ini pasrah atau justru kebebasan.

“Asmara, kebetulan udah jalan 7 tahun sendiri, single, jadi sampai detik ini belum ada sama sekali dan belum kepikiran juga buat menikah.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Ringan. Tanpa beban. Seolah tujuh tahun adalah angka yang biasa-biasa saja.

Yang menarik, di usianya yang kini menginjak 39 tahun, Dinda justru menunjukkan sikap yang kian lapang. Ia memilih menyerahkan urusan jodoh pada semesta. Jika nanti datang, ia tak akan menolak. Jika tidak, bukan masalah.

“Aku sudah berpasrah diri, sudah terserah semesta berikannya gimana. Jadi kalaupun nanti ada yang cocok ya udah, tapi kalau emang nggak ada ya nggak masalah juga sih.”

Baca Juga

Di sinilah letak kekuatan sikapnya. Melajang bukan berarti kekurangan. Baginya, menjadi lajang adalah kondisi yang utuh, bukan ruang hampa yang harus buru-buru diisi.

Banyak yang mengira, semakin bertambah usia, semakin longgar pula standar seseorang dalam mencari pasangan. Dinda justru membalik logika itu.

Semakin dewasa, ia justru semakin teguh dengan kriteria yang ia pegang. Bukan karena angkuh. Bukan pula karena terlalu pemilih. Tapi karena ia paham, hidup bersama seseorang yang tak sejalan hanya akan melahirkan kesepian dalam bentuk yang berbeda.

“Jadi kalau sekarang makin tua kayaknya untuk menurunkan standar agak makin sulit ya. Kalau dulu masih gak apa-apa, tapi kalau sekarang kayak kalau udah punya standar segini ya udah gitu. Mending gak ada daripada harus tidak sepadan dalam hal apa pun.”

Itu prinsip yang tak ia tawar.

Di balik semua ketenangan ini, ada satu alasan yang selama ini mungkin luput dari perhatian publik. Sebuah alasan yang justru lahir dari kehilangan.

Dinda adalah seorang yatim piatu. Tak ada lagi orang tua yang menanti-nanti kapan anaknya akan dibawa ke pelaminan. Tak ada suara dari rumah yang bertanya, “Kapan kamu nikah?”

“Untungnya aku yatim piatu, jadi udah nggak ada pantauan dari orang tua. Jadi sudah tidak ada lagi tekanan harus menikah atau gimana, jadi emang lebih santai aja.”

Pernyataan ini terdengar getir sekaligus membebaskan. Di satu sisi, ia kehilangan figur terpenting dalam hidupnya. Di sisi lain, tak adanya ekspektasi dari orang tua membuat ia bisa berjalan dengan ritmenya sendiri. Tanpa merasa dikejar waktu.

Toh, tetap ada saja yang mencoba menghubungkan statusnya dengan citra yang ia bangun di layar kaca. Publik kerap mengira, peran antagonis yang selama ini melekat padanya membuat jodoh enggan mendekat.

Dinda hanya tertawa mendengar anggapan itu.

“Gara-gara peran antagonis jadi seret jodoh ya, kayaknya sih nggak… kayaknya sih nggak ngaruh deh. Tahu deh, mungkin saja ngaruh juga gitu, cuma kayaknya sih nggak sih gitu.”

Tawanya menjadi penutup yang pas. Ia tak sepenuhnya menepis, tapi juga tak memberi ruang bagi anggapan itu untuk tinggal terlalu lama.

Bagi Dinda Kanyadewi, tujuh tahun sendiri bukanlah babak penantian yang menyiksa. Ia menyusun hari-harinya dengan penuh, membangun standar yang membuatnya bangga, dan menyerahkan sisanya pada semesta. Jika memang harus terus sendiri, ia sudah membuktikan: itu bukan beban.

Yuk, update terus kabar viral dan breaking news bareng Cek&Ricek TV! Langsung subscribe channel YouTube kami di: https://www.youtube.com/@ceknricektv. Jangan lupa aktifkan lonceng notifikasinya biar nggak ketinggalan video terbaru!
banner-ad

Pos terkait

banner-ad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *