C&R TV, Jakarta — Kata “cancel” bisa menjadi senjata paling tajam di era media sosial. Sebuah karier bisa runtuh hanya dalam hitungan jam, tenggelam oleh tagar yang digaungkan ribuan orang. Tapi tampaknya Aldi Taher tidak membaca buku pedoman itu.
Di tengah ramainya seruan “Cancel Aldi Taher” yang menggema di platform X, aktor sekaligus penyanyi dan pebisnis itu justru muncul dengan unggahan yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan publik. Bukan klarifikasi. Bukan permintaan maaf. Melainkan sebuah foto berisi jadwal pekerjaan yang padat, terentang dari Juli hingga Oktober 2026.
“ALHAMDULILLAH SCEDULE SEMENTARA, EFEK BACA ALQURAN DOA IBU CIUM KAKI IBU CIUM PIPI ISTRI DOA ISTRI ANAKZ,” tulis Aldi di akun Instagram pribadinya, Senin (6/7/2026). “Semua scedule MILIK ALLAH love you ALL.”
Unggahan itu muncul hanya beberapa hari setelah gelombang kritik menerpanya. Pemicunya adalah satu kalimat pendek: “Bodo amat.” Dua kata itu dilontarkan Aldi saat merespons kabar bahwa penyanyi muda Nadhif Basalamah mengaku menjadi korban dugaan pelecehan seksual daring. Publik menilai respons tersebut tidak menunjukkan empati, dan tagar boikot pun menyebar cepat.
Namun alih-alih terpuruk, Aldi memilih memamerkan kalender kerjanya. Juli saja sudah penuh. Ada Maybelline, Luwes Blora, Sukabumi, Softex, Dancow, Wardah, hingga Club Novotel Palembang. Agustus mengular ke Sumbawa, Semarang, Banjarmasin, Bali. September membawanya ke podcast bersama Sandiaga Uno dan Pestapora. Oktober masih menanti dengan kontes mobil yang menyandang namanya sendiri.
Di sela-sela kontroversi, sejumlah warganet justru mempertanyakan efektivitas seruan cancel itu. Kalau memang pekerjaan Aldi masih mengalir, lalu di mana letak dampak boikotnya?
Pertanyaan itu mungkin tidak akan dijawab langsung oleh Aldi. Ia sudah menyerahkan semuanya pada ayat-ayat yang ia baca, doa ibu yang ia minta, dan ciuman di pipi istri yang ia yakini membawa berkah. Retorikanya memang tidak biasa. Tapi di balik semua kegaduhan, angka di kalender kerjanya berbicara lebih keras daripada tagar.













