C&R TV, Jakarta — Nanda Persada datang bukan sebagai mantan manajer yang ingin ikut campur. Pertemuannya dengan Ruben Onsu beberapa waktu lalu lebih menyerupai percakapan dua orang yang sama-sama lelah melihat drama yang tak kunjung reda.
Mereka membahas polemik yang sudah terlalu lama menghuni linimasa. Ruben, menurut Nanda, tidak pernah menginginkan semua ini meledak ke mana-mana. Ada kelelahan dalam suaranya. Tapi juga ada satu harapan sederhana yang ia ungkapkan.
“Jadi ada satu omongan dari Ruben begini, ‘Kalau sebenarnya minta maaf dengan baik-baik saja dan berkomunikasi dengan baik, semuanya akan selesai dengan cepat,'” kata Nanda mengutip ucapan presenter 42 tahun itu.
Kalimat itu menggantung di udara. Singkat. Tidak penuh kemarahan. Tapi justru di situlah letak kesedihannya. Ruben, yang kini telah mendaftarkan gugatan hak asuh anak ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sebetulnya hanya menunggu satu langkah sederhana dari pihak Sarwendah. Langkah yang tak kunjung datang.
Nanda melanjutkan, “Cuma hal itu tidak bisa terjadi, terwujud. Jadi akhirnya jadi panjang masalahnya ke mana-mana.”
Ia menyayangkan keadaan yang berkembang. Apalagi, kedua belah pihak sempat saling sindir di media sosial, menjadikan ruang publik sebagai panggung bagi luka yang seharusnya bisa disembuhkan secara privat.
Dampak dari melebarnya konflik ini sudah mulai terasa. Nama Sarwendah kini menjadi subjek petisi boikot yang beredar di media sosial. Puluhan ribu tanda tangan terkumpul. Karier yang selama ini ia bangun perlahan ikut terseret ke dalam pusaran.
Nanda, yang pernah berada di sisi Sarwendah sebagai manajer, kini hanya bisa berharap. Ia ingin kedua pihak segera menemukan jalan keluar. Bukan untuk siapa-siapa, tapi agar konflik ini tidak lagi memakan korban — termasuk anak-anak yang ada di tengahnya.













