C&R TV, Tunis — Di atas kertas, The Odyssey adalah segalanya yang diinginkan Hollywood: Christopher Nolan di kursi sutradara, Zendaya dan Matt Damon sebagai bintang utama, serta kisah fantasi epik yang siap memikat layar lebar. Film ini bahkan sudah dijadwalkan tayang di Amerika Serikat bulan Juli ini, bersiap menyambut gemerlap karpet merah dan sorotan kamera dari seluruh dunia.
Namun, sebelum satu pun penonton membeli tiketnya, sebuah suara dari tempat yang jauh sudah lebih dulu menyerukan perlawanan. Bukan terhadap plot atau aktingnya, melainkan terhadap tanah tempat sebagian adegan film itu diambil.
Sahara International Film Festival, atau FiSahara, pada Jumat (4/7) menyerukan boikot publik terhadap The Odyssey. Alasannya sederhana namun berdimensi panjang: Christopher Nolan memilih Semenanjung Dakhla, yang terletak di wilayah Sahara Barat, sebagai salah satu lokasi syuting.
Bagi FiSahara, pilihan lokasi itu bukan sekadar keputusan artistik. Ia adalah pengabaian terhadap puluhan tahun perjuangan dan penderitaan.
Sahara Barat adalah bekas koloni Spanyol yang sejak 1975 sebagian besar dikuasai oleh Maroko. Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa masih menganggap wilayah kaya mineral itu sebagai daerah yang belum memiliki pemerintahan sendiri. Di sana, konflik antara Maroko dan Front Polisario — kelompok yang didukung Aljazair dan memperjuangkan kemerdekaan masyarakat Sahrawi — telah berlangsung lintas generasi.
Dalam pernyataannya, FiSahara tidak berbicara dengan bahasa diplomatik yang lunak. Mereka menyebut bahwa ketika Christopher Nolan melangkah di karpet merah menuju pemutaran perdana filmnya, ia juga dianggap sedang “menginjak hukum internasional”, khususnya hak rakyat Sahrawi atas wilayah dan sumber daya alam mereka yang — menurut festival itu — dieksploitasi secara ilegal oleh Maroko.
Festival ini bukan sembarang acara. FiSahara rutin digelar di kamp-kamp pengungsi Sahrawi di Aljazair. Mereka yang menyerukan boikot ini adalah orang-orang yang hidup dalam pengasingan, dan mereka sebenarnya telah mendesak Nolan sejak tahun lalu agar membatalkan pengambilan gambar di wilayah tersebut. Surat itu, rupanya, tidak pernah digubris.
Aktor peraih Oscar asal Spanyol, Javier Bardem, turut dikutip dalam pernyataan yang sama. Ia mengatakan bahwa Nolan seharusnya memahami sejarah penindasan yang dilakukan rezim Maroko terhadap masyarakat Sahrawi.
Di sisi lain, Maroko tidak mundur dari klaimnya. Rabat menegaskan bahwa Sahara Barat adalah bagian tak terpisahkan dari kerajaannya, dan mengusulkan status otonomi khusus di bawah kedaulatan mereka. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Front Polisario yang bersikeras menuntut referendum penentuan nasib sendiri — sebuah janji yang telah menjadi pokok sengketa selama puluhan tahun.
Apa yang terjadi pada The Odyssey adalah pengingat bahwa Hollywood tidak pernah benar-benar bisa lari dari geopolitik. Sebuah film bisa menjadi karya seni, tetapi tanah tempat ia berdiri bisa menyimpan luka sejarah yang jauh lebih panjang dari durasi tayangnya. Ketika karpet merah itu akhirnya digelar, langkah kaki yang menyusurinya mungkin akan terasa lebih berat dari yang pernah dibayangkan.













