C&R TV, Bogor — Ada pemandangan baru di beberapa gerai Alfamart yang mungkin belum banyak disadari orang. Di lantai dua minimarket yang biasanya hanya berisi rak-rak barang, kini berdiri sebuah bioskop mini bernama Layar Digi. Setelah debut perdananya di Gading Serpong, Tangerang pada April 2026, bioskop ini merambah ke Bogor dan langsung memancing rasa penasaran.
Apa yang membuat bioskop di dalam minimarket ini begitu berbeda dari XXI atau jaringan bioskop reguler lainnya?
Jawaban pertama terletak pada harga tiketnya. Cukup dengan Rp15.000 hingga Rp20.000, penonton sudah bisa duduk di kursi studio yang dari segi teknologi layar dan audio tidak main-main. Tiketnya pun bisa dibeli secara daring lewat aplikasi Alfagift atau mesin otomatis di lokasi, tanpa perlu repot mengantre di loket. Sebuah kemudahan yang langsung terasa sejak langkah pertama masuk.
Kejutan berikutnya datang dari aturan soal makanan. Di bioskop mini ini, tidak ada konter penjualan camilan di dalam studio. Penonton justru dibebaskan membeli sendiri makanan dan minuman dari gerai Alfamart yang terhubung langsung dengan area bioskop. Harganya pun sama seperti harga retail biasa — tidak ada mark-up khusus untuk popcorn atau kopi yang biasa menemani pengalaman menonton.
Sistem ini ternyata membawa keuntungan dua arah. Penonton tidak perlu merogoh kocek lebih dalam untuk camilan, sementara Alfamart menikmati lonjakan pengunjung. “Jadi memang target kita juga tercapai dengan adanya Layar Digi di sini, di toko-toko Alfamart, traffic ke toko kita menjadi cukup baik,” ujar Senior Manager Alfamart, Yanuar Arifin, saat pembukaan gerai Bogor, Jumat (3/7/2026).
Dari sisi pilihan film, Layar Digi mengambil jalur yang sedikit berbeda. Film-film yang dijadwalkan tayang saat ini adalah film yang sudah selesai masa tayangnya di bioskop besar seperti XXI. CEO Layar Digi, Victor Timothy, menjelaskan bahwa ini merupakan strategi yang disengaja. “Ada tawaran dari distributor film yang sedang tayang, kita juga bisa tayang, cuma memang kita memilih yang sudah turun dulu sih dari XXI,” ungkapnya.
Pertimbangannya cukup masuk akal. Micro cinema ini menyasar daerah-daerah yang selama ini belum memiliki akses ke bioskop. Bagi warga di sana, film yang sudah tidak tayang di kota besar pun tetap merupakan hiburan yang dinantikan. Dalam sehari, dua hingga tiga judul bergantian menghiasi layar, di antaranya “Knight Kris”, “Lift”, dan “Setan Alas!”.
Ukuran studio bioskop ini juga tidak seperti bioskop kebanyakan. Dengan kapasitas hanya 30 hingga 40 tempat duduk, suasananya terasa lebih intim. Tata letak kursinya dibuat lebih sederhana dengan posisi yang cenderung rendah. Saat ini, setiap gerai baru memiliki satu studio, namun ke depannya Victor menyebut akan ada unit yang dilengkapi dua studio agar daya tampungnya lebih besar.
Berekspansi ke Daerah yang Selama Ini Terlewat
Ambisi Layar Digi tidak main-main. Setelah Tangerang, Bogor, dan Riau, rencananya akan ada total 10 bioskop mini yang segera beroperasi. Karawang, Sukabumi, Cirebon, hingga Kalimantan sudah masuk dalam daftar lokasi yang menanti giliran.
Yang menarik, tidak semua bioskop mini ini akan menempel di gerai Alfamart. Victor memperkirakan sekitar 70 persen unit akan tetap berada di dalam minimarket, sementara 30 persen sisanya akan dibangun secara independen seperti yang sudah berjalan di Riau. Sebuah langkah yang menegaskan bahwa Layar Digi bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan jaringan bioskop yang serius menjangkau tempat-tempat yang selama ini luput dari peta hiburan layar lebar.
Perlahan, batas antara tempat belanja harian dan ruang hiburan mulai mencair. Dan semuanya dimulai dari lantai dua sebuah Alfamart.













