C&R TV, Jakarta — Tidak banyak yang bisa dilakukan seorang ibu ketika anaknya diterpa badai. Apalagi jika badai itu bernama opini publik. Amy Qanita memilih satu cara yang mungkin tidak terduga: ia mengunggah foto.
Bukan foto dukungan penuh semangat. Bukan pula klarifikasi panjang lebar. Di akun Instagram pribadinya, Amy justru mengunggah kolase empat gambar: mendiang suaminya, Munawar Ahmad, putranya Raffi Ahmad, dan kedua cucunya, Rafathar dan Rayyanza. Empat potret dari masa yang berbeda, disusun dalam satu bingkai, diunggah tepat saat jagat maya sedang riuh membicarakan dugaan oligarki yang melibatkan sang putra.
Publik memang sedang menyorot tajam Raffi Ahmad. Semua berawal dari temuan bahwa sejumlah orang di lingkaran terdekat Utusan Khusus Presiden itu menduduki posisi strategis — mulai dari pemerintahan, legislatif, hingga perusahaan milik negara. Salah satu yang paling disorot adalah Mufli Budi Ananda, asisten pribadi Raffi, yang dikabarkan masuk jajaran komisaris PT Krakatau Posco.
Di tengah riuh kritik yang terus bergulir di media sosial, Amy tidak menulis satu kata pun tentang oligarki. Tidak ada pembelaan langsung. Tidak ada bantahan. Ia hanya menulis kalimat yang mengarah ke masa lalu, ke sosok yang sudah tiada.
“Terima kasih almarhum suamiku, yang sudah memberikan ilmu-ilmu tentang kehidupan,” tulis Amy dalam unggahan itu, dikutip Jumat (3/7).
View this post on Instagram
Kalimat itu tidak panjang, tapi seperti punya gravitasi sendiri. Amy tidak sedang berpidato. Ia sedang berbicara kepada seseorang yang tidak lagi bisa membalas pesannya. Dan dari situlah kekuatan unggahan itu berasal.
Amy melanjutkan tulisannya dengan mengatakan bahwa mendiang suaminya telah mengajarinya bagaimana menghadapi masalah seberat apa pun, bagaimana tetap menjadi pribadi yang lebih baik, dan bagaimana berserah diri kepada Tuhan. Semua ditulis dengan tenang. Tidak ada tanda seru. Tidak ada huruf besar penuh emosi.
Publik menangkap unggahan itu sebagai isyarat. Di saat orang-orang menunggu Raffi angkat bicara — yang hingga kini memilih bungkam dan fokus bekerja — sang ibu justru memberi jawaban dengan cara paling sunyi: mengenang suami, memeluk kenangan, dan menitipkan pesan lewat doa.
Mungkin Amy tahu bahwa tidak semua badai harus dilawan dengan kata-kata. Kadang, mengingat bagaimana almarhum suami mengajarkan ketawadhuan sudah cukup menjadi kompas. Dan di kolase itu, di antara wajah suami dan anak-anaknya, Amy seperti sedang berkata: kami akan baik-baik saja.













