C&R TV, Jakarta — Selama ini, Sarwendah memilih diam. Bukan karena tidak punya cerita, tapi karena ia sedang menunggu panggung yang tepat untuk menyuarakannya. Dan kini, panggung itu akhirnya tiba — bukan di depan kamera atau mikrofon wartawan, melainkan di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Gugatan hak asuh anak yang dilayangkan Ruben Onsu rupanya disambut dengan sesuatu yang tidak banyak diduga: kelegaan. Bagi Sarwendah, langkah hukum mantan suaminya itu justru membuka pintu yang selama ini ia jaga tetap terkunci rapat dari sorot publik.
“Kami memang menunggu momen ini,” kata Abraham Simon, kuasa hukum Sarwendah, dengan nada yang sulit disembunyikan ketegasannya.
Kalimat itu bukan sekadar basa-basi hukum. Ada beban yang terasa ikut keluar bersamanya. Abraham mengungkapkan bahwa kliennya sudah terlalu lama menjadi pihak yang hanya mendengar, menyaksikan narasi beredar, dan menahan diri. Kini, aturan mainnya berubah.
“Prinsipnya kita nggak mau berbalas pantun di media. Sekali lagi saya mohon maaf kepada rekan-rekan, kami akan irit bicara. Tetapi prinsipnya kami senang permasalahan ini ada jalurnya (hukum),” ujarnya.
Pihak Sarwendah mengakui bahwa mereka masih mempelajari detail gugatan yang diajukan Ruben. Namun, keputusan untuk tidak lagi bermain opini di ruang publik sudah bulat. Bagi Sarwendah, persidangan adalah tempat segala silang sengkarut seharusnya diluruskan — dan di sanalah ia akan berbicara tanpa lagi ada yang ditutupi.
Abraham menyampaikan bahwa apa yang nanti terungkap bukanlah sekadar pembelaan, melainkan rangkaian fakta yang tersusun rapi dari awal hingga akhir pernikahan kliennya. Sebuah narasi yang belum pernah sekalipun mendarat di telinga media.
“Akan kami sampaikan yang mana yang kami sampaikan adalah fakta, dari awal pernikahan sampai dengan akhir pernikahan,” tegasnya.
Di balik langkah hukum ini, ada taruhan yang jauh lebih personal: masa depan anak-anak mereka. Sarwendah tidak hanya ingin status yang jelas, tapi juga kepastian bahwa semua yang selama ini tersimpan rapat akhirnya menemui cahaya. Diamnya selama ini bukan tanpa alasan — ia hanya menunggu momen yang tepat. Dan momen itu sekarang ada di depan mata.













