Shireen Sungkar Cerita Perjuangan Terima Autisme Putri Bungsunya

Shireen Sungkar Cerita Perjuangan Terima Autisme Putri Bungsunya
Shireen Sungkar cerita diagnosis autisme putri bungsunya. Dari menyalahkan diri hingga menerima takdir dengan ikhlas.
banner-ad

C&R TV, Jakarta — Air mata Shireen Sungkar tak terbendung saat mengingat kembali momen pertama kali mendengar diagnosis putri bungsunya. Di usia tiga tahun, Cut Shafiyyah dinyatakan mengalami autisme. Dunia Shireen yang semula terang mendadak terasa runtuh.

“Waktu itu kayak bingung mencernanya, autis itu apa, harus ngapain, terapinya seperti apa?” ujar Shireen.

Baca Juga

Tapi ada satu hal yang membuatnya lebih berat lagi. Sebenarnya, Shireen sudah lama melihat perubahan pada putrinya. Hati seorang ibu mengatakan ada yang tidak beres. Namun setiap kali ia memeriksakan putrinya ke dokter, jawabannya selalu sama: “tidak autisme.” Hingga akhirnya, diagnosis itu datang juga.

“Umur tiga tahun baru lah ada diagnosa (autisme) itu,” kenangnya.

Tidak ada yang menyiapkan Shireen untuk momen itu. Ia kemudian memasuki fase yang paling berat dalam hidupnya sebagai ibu. Bukan sekadar menerima kenyataan bahwa putrinya autisme—tapi juga harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui: apakah ini salahnya?

“Sebagai orangtua juga ‘kenapa ya?'” kata Shireen. “Aku nyalahin diriku banyak banget, ‘Apa aku salah makan pas hamil, Apa aku stres pas hamil? Apa aku salah ngedidiknya?’ Aku nyalahin akunya banyak banget.”

Semua ibu pasti pernah merasakan hal ini, pikir Shireen saat itu. Rasa bersalah merayap begitu dalam. Ia bahkan mulai membandingkan putrinya dengan anak-anak lain—sebuah kebiasaan yang hanya membuat lukanya semakin dalam.

Baca Juga

“Fase awal berat, berat banget pada saat itu,” ujarnya. “Karena untuk mengiyakan dan menerima takdir itu enggak gampang.”

Tapi di tengah keputusasaannya, Shireen bertemu dengan seorang ustaz. Kata-kata pria itu seperti cahaya di tengah gelap. Ia mengingatkan Shireen akan satu hal yang selama ini luput: Allah tidak pernah salah dalam membuat takdir.

“Kita itu manusia cuma bisa berencana, Allah itu yang menakdirkan,” kata Shireen mengingat nasihat ustaz dengan mata berkaca-kaca. “‘Kamu itu dikasih surga di depan mata, kenapa kamu harus pusing sama masa depan anak. Sebagai ibu cuma bisa berjuang supaya anaknya tumbuh, diluar itu, masa depannya seperti apa, kita enggak usah pusing dan overthinking, itu udah kotaknya Allah.'”

Kalimat itu mengubah segalanya. Shireen menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus menyalahkan keadaan—marah pada kondisi, marah pada takdir yang tidak ia pahami. Padahal, Allah memberi Shireen sebuah amanah yang indah: Cut Shafiyyah.

“Aku lebih fokus marah sama kondisi daripada fokus berpikir Allah itu baik loh, Allah itu enggak pernah salah dalam membuat takdir,” ucap Shireen.

Di balik kesulitan, Shireen juga menemukan kekuatan. Suaminya, Teuku Wisnu, selalu ada di sisinya. Keluarga menjadi sandaran yang kokoh saat badai menerpa.

Perjalanan Shireen Sungkar dari seorang ibu yang menyalahkan diri hingga akhirnya menemukan ketenangan adalah cerminan perjuangan yang tidak pernah terlihat. Ia harus meruntuhkan ego, mengalahkan rasa bersalah, dan menerima bahwa masa depan putrinya ada di tangan yang lebih besar dari dirinya.

Dan kini, setelah semua air mata, Shireen belajar satu hal: autisme bukanlah hukuman. Ini adalah takdir yang membawa pelajaran berharga—bahwa cinta seorang ibu harus lebih kuat dari rasa takut, lebih besar dari rasa bersalah, dan lebih dalam dari sekedar pemahaman manusia.

Yuk, update terus kabar viral dan breaking news bareng Cek&Ricek TV! Langsung subscribe channel YouTube kami di: https://www.youtube.com/@ceknricektv. Jangan lupa aktifkan lonceng notifikasinya biar nggak ketinggalan video terbaru!
banner-ad

Pos terkait

banner-ad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *