C&R TV, Jakarta — Ada secercah harapan di tanggal 11 Juli. Ruben Onsu dan Sarwendah sepakat untuk duduk bersama membicarakan jalan keluar dari konflik yang kian memanas. Undangan telah dikirim, niat baik pun terucap.
Namun harapan itu kini sirna sebelum sempat dijamah. Pertemuan damai yang dinanti batal total. Kini, obrolan yang seharusnya hangat di meja kopi berubah menjadi gugatan dan agenda sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Konfirmasi pembatalan datang dari kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang.
“Karena adanya gugatan yang sudah didaftarkan dan sidang pertamanya akan dimulai 15 Juli ini, tim kuasa hukum S mengatakan sebaiknya pertemuan di tanggal 11 itu di batalkan saja,” jelas Minola.
Minola menambahkan, seluruh pembahasan yang semula dijadwalkan akan dialihkan ke meja mediasi di PN Jakarta Selatan, seiring dengan bergulirnya proses hukum yang telah dilayangkan pihak Ruben.
Konflik panas ini tak muncul begitu saja. Semua berawal dari protes Ruben karena merasa kehilangan haknya sebagai ayah. Berdasarkan Akta 39 perceraian, ia seharusnya masih bisa bertemu kedua putrinya tiga hari dalam seminggu—namun hak itu disebutnya tak kunjung ia dapatkan.
Situasi kian memanas ketika Ruben mengambil langkah tegas dengan menghentikan pemberian nafkah bulanan yang nilainya fantastis, mencapai Rp225 juta. Langkah ini kemudian direspons Sarwendah dengan tuduhan bahwa Ruben telah lepas tanggung jawab. Dari situlah, bara api kecil berubah menjadi kobaran yang akhirnya membawa mereka ke jalur hukum.
Puncaknya, Ruben resmi menggugat hak asuh penuh kedua putrinya. Namun di balik gugatan itu, ada alasan yang lebih dalam dan emosional: kekhawatiran akan keselamatan sang anak.
Ruben dilaporkan mencium adanya dugaan eksploitasi di lingkungan Sarwendah. Kekhawatirannya memuncak setelah mengetahui putrinya dilibatkan dalam aktivitas berjualan di siaran langsung TikTok.
“Karena tidak terpenuhinya kesepakatan tentang masalah pembagian waktu dan juga hal-hal yang lain termasuk dugaan adanya eksploitasi anak dan lingkungan yang tidak aman, hari ini kami resmi mendaftarkan gugatan hak asuh anak tersebut,” tegas Minola.
Menurut Minola, langkah ini murni didasari keinginan Ruben untuk memperjuangkan haknya berkumpul dengan anak dan memastikan buah hatinya mendapatkan kasih sayang utuh dari sang ayah.
Harapan di Ruang Sidang
Meski langkah hukum telah ditempuh, Minola menegaskan bahwa keputusan ini bukan semata-mata lahir dari kekecewaan pribadi.
“Saya rasa ini bukan bicara masalah kekecewaan, karena melakukan upaya hukum itu adalah hak dari semua orang. Sama seperti ketika kami menghormati upaya hukum yang dilakukan oleh pihak S,” ujar Minola.
Kini, seluruh agenda yang tertunda—termasuk pertemuan 11 Juli yang batal—akan dipertemukan kembali di kursi mediasi dan ruang sidang yang dimulai 15 Juli mendatang. Dari undangan damai ke sidang mediasi, nasib dua bocah kini berada di tangan hukum.













