C&R TV, Jakarta — Di Senayan, Rabu siang itu, Reza Arap menjawab satu pertanyaan dengan senyum yang sulit diartikan. Tidak ada keraguan dalam suaranya, tapi ada getaran halus yang mengisyaratkan bahwa film yang sedang ia bicarakan bukanlah proyek biasa.
“Enggak (sulit), soalnya direct pakai hati,” ucapnya singkat.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi siapa pun yang tahu apa yang sudah terjadi dalam setahun terakhir, memilih memimpin sebuah film dengan perasaan — bukan sekadar teknis — adalah keputusan yang memikul beban jauh lebih berat.
Sebab film ini, Harusnya Horror, bukan hanya debut penyutradaraan Reza Arap. Ini adalah karya terakhir Lula Lahfah, seseorang yang masih ia sebut sebagai pacarnya, yang kini sudah tidak lagi di sisinya.
Namun, sebelum kamera mulai menyala dan adegan demi adegan diambil, ada satu hal yang lebih dulu harus ia dapatkan: restu keluarga Lula. Dan restu itu kini sudah di tangannya.
“Oh enggak, (soal izin) clear sih, clear. Dari keluarga almarhumah bener-bener percaya, ya, ini memang karyanya almarhumah dan saya kan masih sebagai pacarnya hitungannya ya, ya akan menjaga, terus menjaga itu supaya, hasilnya jadi yang terbaik sih,” ujar Reza Arap.
Restu itu diberikan bukan dengan syarat-syarat yang rumit. Pihak keluarga Lula Lahfah menyerahkan kepercayaan penuh kepada pria yang pernah berdiri di samping putri mereka. Bagi Reza Arap, ini bukan cuma lampu hijau untuk merilis film. Ini adalah amanah yang harus ia kawal sampai ke tangan penonton, dalam bentuk yang paling layak.
Tapi perjalanannya tidak hanya soal menjaga warisan. Ada satu hal lain yang sejak awal sudah ia tanamkan: ia ingin mematahkan stigma. Sebagai YouTuber dan konten kreator yang masuk ke dunia film, Reza Arap tahu betul bagaimana keraguan itu terdengar.
“Saya paling suka diremehkan. Diremehkan dalam arti ‘ah paling film YouTuber, ah paling film streamer’. Saya akan buktikan kalau semuanya termasuk saya itu push our limit, bahkan limit-nya bukan nge-push lagi bener-bener lewatin limit di film ini,” tegasnya.
Ambisi itu bukan gertakan kosong. Harusnya Horror digarap dengan standar yang ia dorong melampaui batas. Genre komedi fantasi yang diusung — tentang sekelompok konten kreator yang terpaksa bekerja sama dengan hantu tak menyeramkan demi konten viral — menjadi medium yang ia olah dengan serius di bawah naungan Essjay Studio.
Namun, di tengah segala tekad dan ambisi itu, ada satu pengakuan yang membuat semuanya terasa lebih personal. Reza Arap meminta penonton memperhatikan setiap detail dialog dalam filmnya. Sebab, ada kemiripan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan antara skrip yang ditulis setahun lalu dan kenyataan yang kini ia jalani.
“Film atau skrip itu adalah doa ya kayak lagu. Bener-bener detail per detail dari skrip dialog apa pun itu. Jadi please pay attention, pay attention to every details di filmnya nanti. Syutingnya tahun lalu Agustus Juli sebelum Marapton Season terakhir bahkan. Jadi bener bener kok bisa gitu, kok relate,” tutupnya.
Kini, dengan restu yang sudah terkantongi dan hati yang sepenuhnya tercurah, Reza Arap tinggal menunggu satu tanggal: 20 Agustus. Hari ketika amanah itu akhirnya bertemu dengan penonton, dan semua yang selama ini ia jaga bisa berbicara sendiri di layar lebar.













