C&R TV, Tangerang — Ada sesuatu yang berbeda dari Ruben Onsu kali ini. Ia pulang ke Tanah Air bukan hanya dengan membawa oleh-oleh dari Tanah Suci, tapi juga dengan ketenangan yang terpancar dari caranya bicara. Keberangkatan umrah keempatnya bersama sahabat, Ivan Gunawan, ternyata menjadi perjalanan yang jauh lebih personal dari sekadar rutinitas ibadah.
“Momen mengharukan semuanya. Buat saya, saya bisa berangkat lagi, diberikan kesehatan lagi udah membuat saya terharu gitu loh,” ujar ayah tiga anak itu saat ditemui di kawasan Tangerang.
Berulang kali Ruben menapakkan kaki di Tanah Suci, dan setiap kali pula matanya tak kuasa menahan haru. Tapi kali ini, rasa syukurnya terasa lebih dalam. Ia tidak hanya berterima kasih karena diberi umur panjang dan kesehatan, tetapi juga karena menemukan sesuatu yang selama ini sulit digenggam: hati yang lebih tenang.
“Allah kasih saya kesehatan lagi, umur yang panjang lagi untuk bisa ke sana lagi tuh ya masya Allah gitu. Dan di situ juga udah selalu itu salah satu cara saya bersyukur dengan apa yang Allah kasih,” sambungnya.
Namun di balik ketenangan itu, ada cerita yang tidak Ruben ucapkan dengan gamblang. Beberapa bulan terakhir, hidupnya diwarnai perseteruan panjang dengan mantan istri, Sarwendah. Masalah nafkah dan hak asuh anak menjadi medan yang tak kunjung menemui titik temu. Ruang-ruang negosiasi tidak memberi jawaban, dan di sanalah Ruben memilih mencari arah yang berbeda.
Ia datang ke Tanah Suci bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk meletakkan semuanya.
“Alhamdulillah semuanya. Semuanya dilakukan dengan salat gitu, jadinya hati ya lebih tenang, lebih enjoy gitu,” ungkapnya.
Di depan Ka’bah, Ruben memanjatkan doa yang kali ini terasa begitu spesifik dan personal. Ia tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk hati yang mengeras dan urusan yang belum selesai. Kata-katanya sederhana, tapi ada harapan yang tertanam kuat di sana.
“Doa diberikan kemudahan untuk segala apa pun yang kita kerjakan, yang kita jalani gitu. Jadi di depan Ka’bah ya pengin doanya yang baik-baik ucapannya gitu, supaya Allah mudahkan semuanya gitu. Terus melunturkan hati yang keras,” tutupnya.
Ketenangan yang Ruben temukan bukanlah akhir dari masalah. Ini mungkin baru permulaan dari cara baru ia menghadapi semuanya — bukan dengan amarah, tapi dengan hati yang lebih ringan dan doa yang lebih panjang.













