C&R TV, Jakarta — Sulit membayangkan seorang Afgan pernah bernyanyi di depan kursi-kursi kosong, tanpa sorot lampu besar, tanpa riuh tepuk tangan, bahkan tanpa bayaran uang tunai.
Delapan belas tahun sebelum namanya menjadi salah satu solois pria paling konsisten di industri musik Indonesia, Afgansyah Reza justru memulai semuanya dari tempat yang jauh dari kata glamor, sebuah food court di pusat perbelanjaan.
Momen itu masih melekat jelas dalam ingatannya.
Saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026), Afgan mengingat bagaimana panggung profesional pertamanya pada 2007 di Lippo Mall Karawaci, Tangerang, justru memberinya pengalaman yang tak banyak orang tahu.
“Pertama kali manggung itu di food court. Bayarannya kalau tidak salah voucher makan di food court itu juga. Saya harus mengisi acara di sana mungkin sebulan, setiap hari Jumat. Penontonnya? Tidak ada yang menonton, kosong saja begitu,” kata Afgan.
Bagi banyak orang, panggung kosong mungkin terasa mematahkan semangat. Tapi bagi Afgan muda saat itu, justru di sanalah mentalnya ditempa.
Ia tetap berdiri, tetap bernyanyi, meski hanya ditemani musik minus-one dan lagu-lagu milik musisi lain seperti John Legend, Marcell Siahaan, hingga Glenn Fredly.
“Penontonnya tidak ada, kosong saja begitu. Tapi itu melatih mental banget. The show must go on. Dari situ saya belajar banyak hal dasar sebagai penampil,” lanjutnya.
Setahun setelah fase sederhana itu, hidup Afgan berubah cepat.
Pada 2008, ia merilis Terima Kasih Cinta, lagu yang menjadi pintu masuknya ke industri musik nasional. Tak butuh waktu lama, single itu melejit dan membuat namanya mulai dikenal luas.
Kesuksesan itu berlanjut lewat Sadis, lagu yang makin mengukuhkan posisinya sebagai wajah baru pop Indonesia. Tahun yang sama, ia membawa pulang penghargaan Most Favorite Male Artist di MTV Indonesia Awards 2008.
Namun, perjalanan panjang itu ternyata tidak selalu mulus.
Di balik panggung besar dan lagu-lagu hit, Afgan mengaku pernah terjebak dalam fase paling membingungkan dalam hidupnya. Periode 2019 hingga awal 2024 menjadi masa ketika ia merasa kehilangan arah.
“Saya bingung mau bikin karya seperti apa lagi. Di satu sisi ingin eksplorasi warna baru, tapi di sisi lain pendengar ingin saya tetap menjadi Afgan yang lama. Momen merasa stuck itu rasanya bingung sekali,” ujarnya.
Kegelisahan itu bahkan sempat membawanya pada pikiran untuk berhenti.
Bukan karena kehilangan cinta pada musik, melainkan karena ia merasa tidak lagi berada di tempat yang sama dengan versi dirinya yang dulu. Akting sempat muncul sebagai kemungkinan jalan baru.
Afgan mengaku, ada momen ketika vakum terasa seperti pilihan yang masuk akal.
“Sempat terpikir untuk vakum, tapi ternyata saya bukan tipe orang yang bisa kalau tidak kerja. Kalau tidak kerja, saya justru merasa useless atau tidak berguna. Itu yang membuat saya terus jalan, saya butuh kerja untuk merasa lebih hidup dan bermanfaat,” ungkapnya.
Di titik itu, Afgan sadar satu hal penting: musik tetap menjadi rumah yang selalu ia tuju, seberapa pun rumit perjalanan kreatifnya.
Setelah lima tahun mencari bentuk baru, ia merasa akhirnya menemukan dirinya lagi lewat album Retrospektif, karya yang menurutnya paling jujur menggambarkan siapa dirinya sekarang.
Tak berhenti di musik, tahun ini Afgan kembali membuka lembar baru lewat film Agensi Rumah Tangga, garapan sutradara Naya Anindita. Dalam film itu, ia memerankan Kafka, karakter yang sengaja dibuat sangat berbeda dari imej Afgan yang selama ini dikenal publik.
“Karakter Kafka ini berbeda dari imej Afgan. Dari segi penampilan dibedakan banget, saya pakai anting-anting dan rambut dibuat berbeda. Saya ingin menunjukkan kalau Kafka itu bukan Afgan,” tuturnya.
Meski sudah melangkah ke banyak ruang, Afgan rupanya masih menyimpan mimpi lain.
Ia terbuka mencoba warna musik baru, bahkan kemungkinan menyentuh genre koplo atau dangdut. Tetapi satu impian yang paling ia simpan rapat adalah membuat album jazz klasik dengan konsep big band, terinspirasi dari Frank Sinatra.
“Cita-cita terbesar saya sebenarnya ingin bikin album pakai Big Band. Konsepnya seperti Frank Sinatra, jazz yang old school, klasik, dan timeless. Mungkin itu akan jadi proyek idealis saya suatu saat nanti,” pungkasnya.













