C&R TV, Jakarta — Ada pengakuan yang selama ini jarang terdengar dari Ruben Onsu. Presenter 42 tahun itu ternyata sudah lama merasa kehilangan ritme bersama anak-anaknya. Meskipun kesepakatan tertulis pernah dibuat, kenyataannya tidak berjalan seperti yang ia harapkan.
Waktu-waktu yang seharusnya jadi milik seorang ayah dan anak-anaknya kerap terlewat begitu saja. Pola yang tidak konsisten inilah yang akhirnya mendorong Ruben mengambil langkah lebih jauh: mendaftarkan gugatan hak asuh ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Langkah hukum itu bukan tanpa alasan. Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, mengungkapkan kliennya hanya menginginkan satu hal sederhana — kepastian. Kepastian bahwa jadwal berkumpul tidak lagi diabaikan begitu saja setelah pengadilan mengeluarkan putusan.
“Dan yang pasti kalau hal itu dikabulkan oleh pengadilan, Ruben sudah mengatakan dia tidak akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh S yaitu tidak mengizinkan anak-anaknya untuk berkumpul bersama dengan ibunya,” kata Minola dalam wawancara virtual, Minggu (5/7).
Kalimat itu meluncur sebagai jaminan. Jika hak asuh jatuh ke tangannya, Ruben berjanji tidak akan membalas perlakuan yang selama ini ia rasakan sendiri. Pintu untuk Sarwendah tetap terbuka — tidak akan ada yang menghalangi anak-anak bertemu ibu kandungnya.
Minola menambahkan, Ruben sangat memahami satu hal mendasar tentang tumbuh kembang anak. Kehadiran kedua orang tua bukan sekadar hak konstitusional yang bisa dihapus oleh siapa pun, termasuk oleh pemenang gugatan hak asuh.
“Siapa pun yang menjadi pemenang dalam gugatan hak asuh anak ini itu tidak akan bisa mengeliminasi hak ibu maupun hak ayah untuk berkumpul bersama-sama dengan anaknya ya,” tegasnya.
Jadwal Sidang dan Harapan
Rabu, 15 Juli 2026, menjadi tanggal penting berikutnya. Sidang perdana akan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dengan majelis hakim diharapkan memulai proses melalui jalur mediasi.
Pihak Ruben Onsu menaruh harapan besar pada proses ini. Bukan semata-mata untuk memenangkan gugatan, melainkan untuk melahirkan kesepakatan yang menempatkan anak-anak sebagai prioritas utama — tetap mendapatkan kasih sayang utuh, dari ayah maupun ibu mereka.













