C&R TV, Jakarta — Ada yang patah dalam suara Ussy Sulistiawaty ketika ia akhirnya angkat bicara. Bukan patah karena lelah syuting atau letih mengurus rumah tangga. Kali ini, sesuatu yang ia bangun dengan kedua tangannya sendiri — dari dapur kecil di rumahnya — harus ia kubur lebih cepat dari yang pernah dibayangkan.
“Dengan sangat menyesal, Nasi Bejeg Wijaya akan segera kita tutup dalam waktu dekat,” ujar Ussy di media sosialnya, Minggu (5/7/2026).
Bisnis kuliner yang baru setahun berjalan itu, yang lahir dari resep-resep yang ia racik sendiri, akan segera menjadi kenangan. Bukan karena sepi pembeli. Bukan karena pandemi atau resesi. Tapi karena orang-orang yang seharusnya menjaga, justru menjadi alasan kehancurannya.
Nasi Bejeg Wijaya dibuka pada 2024. Ussy membangunnya dengan semangat yang sama seperti ia membangun kariernya: penuh cinta dan kerja keras. Dari dapur rumah, ia menjadikan bisnis ini sebagai bagian dari hidupnya. Bukan sekadar usaha sampingan. Ini adalah wujud dari sesuatu yang personal.
Tapi di balik dapur yang sibuk dan pelanggan yang datang, ada transaksi-transaksi yang berjalan tanpa sepengetahuannya.
Semua bermula ketika seorang oknum berinisial E melakukan kerja sama di bawah meja dengan membawa nama Nasi Bejeg Wijaya. Ussy tidak tahu apa-apa. E bergerak sendiri, menggandeng oknum kedua, dan memintanya untuk tutup mulut — tidak bicara pada Ussy, tidak lapor pada pemilik lain.
“Kenapa disuruh sama si E enggak usah ngomong sama Ussy, (enggak usah ngomong) sama owner lain, dia nurut?” kata Ussy, nada suaranya campur antara heran dan terluka.
Skema itu akhirnya terbongkar setelah E kabur membawa uang. Oknum kedua yang tadinya berharap untung dari transaksi senyap itu kini panik karena uangnya ikut lenyap. Tapi yang membuat Ussy semakin kecewa, oknum ini tidak datang dengan pengakuan — ia datang sebagai korban.
Dan di situlah luka itu semakin dalam.
Seolah belum cukup, oknum ketiga muncul dan memutarbalikkan seluruh cerita. Dalam versinya, Ussy adalah sosok keras hati yang menutup bisnis hanya karena persoalan pinjam-meminjam. Narasi itu sampai ke telinga Ussy, dan ia tidak bisa tinggal diam.
“Dengan versimu, seakan-akan di sini aku penjahatnya. Aku keras hati, hanya karena masalah pinjam meminjam, aku mau menutup Nasi Bejeg Wijaya,” ucap Ussy, kali ini dengan nada yang lebih tegas. “Enggak begitu ceritanya. Ini adalah kekecewaan dari aku.”
Awalnya, Ussy ingin menutup semuanya dengan tenang. Tanpa pengumuman dramatis. Tanpa perlu membuka aib siapa pun. Tapi cerita yang sudah terlanjur dipelintir memaksanya meluruskan. Ia tahu, diam hanya akan membuat segalanya semakin rumit.
“Ini bukan keputusan gampang buat aku,” katanya.
Nasi Bejeg Wijaya bukan sekadar bisnis. Ia dibangun dari dapur rumahnya, dari resep yang dicoba berkali-kali, dari harapan yang ditanam setiap hari. Menutupnya terasa seperti merelakan bagian dari diri sendiri.
“Ketika aku ambil keputusan ini, ini bukan keputusan gampang buat aku,” ulang Ussy, seakan ingin memastikan bahwa tidak ada yang meremehkan beratnya langkah ini.
Agar semuanya adil, Ussy dan para pemilik lain sepakat: tidak boleh ada yang menjual Nasi Bejeg Wijaya lagi dengan menu-menu yang sama. Penutupan ini harus bersih. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk mengambil keuntungan dari puing-puing yang tersisa.
Di ujung pernyataannya, Ussy menyelipkan sebuah pesan yang lahir dari luka yang baru saja ia alami. Tentang uang. Tentang persaudaraan. Tentang bagaimana keduanya bisa saling menghancurkan jika diletakkan dalam urutan yang salah.
“Uang memang kita perlukan, tapi uang bukan segalanya,” ucapnya. “Jangan pernah korbankan persaudaraan hanya karena uang.”
Nasi Bejeg Wijaya lahir dari cinta. Tapi cinta tidak bisa menyelamatkannya dari orang-orang yang memilih diam-diam mengambil apa yang bukan hak mereka. Bisnis ini mungkin akan segera lenyap dari daftar kuliner favorit, tapi kisah pahit di baliknya akan terus menjadi pelajaran — bahwa tidak semua perpisahan terjadi karena kegagalan. Kadang, ia hadir karena luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.













