C&R TV, Jakarta — Semprot parfum di leher sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Wewangian yang menempel di area itu dianggap mampu membuat aroma bertahan lebih lama dan terasa lebih intim. Namun belakangan, kabar miring mulai beredar: kebiasaan ini konon bisa merusak kelenjar tiroid, mengacaukan hormon, hingga “mengotori tubuh” karena bahan kimia langsung terserap ke pembuluh darah. Benarkah?
Menurut dr. Erum Ilyas, MD, MBE, FAAD, dokter spesialis kulit bersertifikat sekaligus ketua dermatologi di Drexel University College of Medicine, kekhawatiran tersebut tidak berdasar secara anatomi.
“Kulit leher terpisah dari kelenjar tiroid oleh lapisan otot dan jaringan, sehingga tidak ada jalur penyerapan langsung,” jelas dr. Ilyas.
Artinya, zat kimia dari parfum yang meresap melalui kulit akan masuk dan diencerkan terlebih dahulu di dalam pembuluh darah sebelum beredar ke organ lain—sama seperti jika disemprotkan ke area tubuh mana pun. Tiroid Anda aman. Namun, bukan berarti kebiasaan ini bebas risiko.
Mengapa Leher Bukan Tempat Terbaik untuk Parfum
Meski tiroid tidak terancam, para dokter tetap menyarankan untuk mempertimbangkan ulang kebiasaan menyemprotkan parfum langsung ke leher. Ada dua alasan utama: kulit dan pernapasan.
Kulit di area leher termasuk yang paling tipis dan sensitif. Paparan parfum berulang, apalagi jika disertai sinar matahari, bisa memicu iritasi hingga dermatitis kontak alergi. Dalam jangka panjang, risiko hiperpigmentasi—gelapnya warna kulit di area tersebut—juga mengintai.
Selain itu, menyemprotkan parfum dekat wajah berarti partikel-partikel kimianya berisiko terhirup langsung menuju sistem penciuman dan paru-paru. Bagi penderita asma, ini bukan sekadar ketidaknyamanan, tapi bisa memicu serangan sesak napas yang berbahaya.
Tips Aman Menggunakan Parfum
Jika Anda sudah bertahun-tahun menyemprotkan parfum ke leher tanpa efek samping, tidak perlu panik. Tapi bagi Anda yang memiliki kulit sensitif atau ingin lebih berhati-hati, para ahli merekomendasikan beberapa langkah sederhana:
Alihkan ke pergelangan tangan, kulit area ini lebih tebal dan cenderung tidak terlalu reaktif. Atau, semprotkan ke pakaian—lebih aman untuk kulit, meskipun aroma mungkin sedikit berbeda.
Gunakan metode kabut atau mist: semprotkan parfum ke udara di depan Anda, tahan napas, lalu berjalan melewati kabut tersebut. Partikel akan menempel merata tanpa risiko terhirup langsung.
Terakhir, perhatikan label produk. Hindari yang mengandung ftalat, paraben, atau pewangi sintetis berat seperti galaxolide dan tonalide. Cari produk yang transparan dengan bahan bakunya—kulit dan paru-paru Anda akan berterima kasih.













