C&R TV, Jakarta — Usia bukanlah penghalang untuk memulai gaya hidup sehat. Hal itu dibuktikan oleh Rahma Sarita yang mulai menekuni olahraga lari saat menginjak usia 50 tahun. Dalam waktu sekitar satu tahun, ia berhasil mengubah kebiasaan hidupnya hingga kini rutin mengikuti berbagai ajang lari, termasuk half marathon.
Bagi Rahma, mengikuti event lari bukan sekadar mengejar medali. Ia menganggap setiap perlombaan sebagai bagian dari latihan yang lebih serius. Karena itu, setiap ada kesempatan mengikuti event besar, ia selalu berusaha untuk ambil bagian.
“Karena ikut event itu sama saja dengan latihan, cuma latihan lebih serius dan dapat medali. Jadi saya usahakan setiap kali ada event pasti ikut,” ujar Rahma.

Dalam waktu dekat, Rahma juga bersiap mengikuti Jakarta International Marathon (JAKIM) yang akan digelar pada 14 Juni mendatang. Meski sempat mengalami cedera, semangatnya untuk tetap berada di garis start tidak surut.
Perjalanan Rahma sebagai pelari terbilang unik. Ia mengaku baru mulai berlari secara serius ketika memasuki usia 50 tahun. Sebelumnya, ia mulai merasakan penurunan mobilitas yang lazim dialami banyak orang seiring bertambahnya usia.
“Saya merasa mobilitas sudah mulai melambat. Naik turun tangga sudah tidak selincah dulu. Tapi setelah rutin olahraga, saya merasa seperti mendapatkan diri yang baru,” katanya.

Menurut Rahma, manfaat terbesar yang ia rasakan bukan hanya pada kemampuan berlari, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari. Tubuh menjadi lebih bugar, gerakan lebih ringan, dan stamina meningkat secara signifikan.
Ia mengungkapkan bahwa latihan lari juga mendorongnya untuk melakukan latihan kekuatan atau strength training. Menurutnya, pelari tidak cukup hanya berlari, tetapi juga harus memperkuat otot-otot penyangga tubuh agar terhindar dari cedera.
“Kalau lari saja nanti cedera. Jadi mau tidak mau harus latihan beban juga, memperkuat lutut, kaki, hamstring, glute, dan otot lainnya,” ujarnya.

Rahma merasakan perubahan besar pada daya tahan tubuhnya. Jika dulu ia mudah lelah dan cepat kehabisan tenaga, kini ambang kelelahannya jauh lebih baik. Ia juga merasakan peningkatan pada sistem kardiovaskular yang membuatnya tidak mudah ngos-ngosan saat beraktivitas.
Meski demikian, perjalanan menjadi pelari aktif tidak selalu berjalan mulus. Rahma mengaku pernah mengalami cedera setelah mengikuti dua event half marathon dalam waktu yang berdekatan. Kurangnya waktu pemulihan membuat ototnya mengalami masalah yang memaksanya beristirahat dari latihan untuk sementara waktu.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya tentang pentingnya recovery atau pemulihan setelah berolahraga intensif.

Kini, Rahma tetap konsisten menjaga kebugaran dengan target sederhana, yakni berolahraga selama satu jam setiap hari. Saat akhir pekan atau hari libur, durasi latihan biasanya bertambah menjadi dua jam untuk long run.
Bagi Rahma, olahraga bukan lagi sekadar hobi, melainkan investasi kesehatan jangka panjang. Ia berharap semakin banyak orang, terutama yang telah memasuki usia 40 hingga 50 tahun, berani memulai gaya hidup aktif tanpa takut terlambat.
“Saya merasa jauh lebih fit sekarang. Jadi menurut saya tidak ada kata terlambat untuk mulai olahraga,” tuturnya.











