C&R TV, Jakarta — Semangat mengikuti berbagai ajang lari ternyata sempat membawa Rahma Sarita pada pengalaman yang tidak menyenangkan. Pelari yang baru aktif menekuni olahraga lari dalam satu tahun terakhir itu mengaku pernah mengalami cedera akibat kurangnya waktu pemulihan setelah mengikuti dua event half marathon dalam waktu yang berdekatan.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Rahma tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara latihan, kompetisi, dan recovery atau pemulihan tubuh.
Menurut Rahma, cedera yang dialaminya terjadi setelah ia mengikuti dua ajang half marathon dalam rentang waktu yang terlalu dekat. Alih-alih memberikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat, ia justru tetap menjalani aktivitas lari seperti biasa.

“Ini saya baru cedera gara-gara ikut dua half marathon berdekatan. Harusnya recovery, tetapi saya masih lari lagi bersama teman-teman dan ikut event berikutnya,” ujar Rahma.
Akibatnya, ia mengalami shin splint, salah satu cedera yang cukup umum dialami pelari. Kondisi ini ditandai dengan rasa nyeri di sepanjang tulang kering akibat tekanan berulang pada otot, tendon, dan jaringan di sekitar tulang tersebut.
Cedera tersebut memaksanya menghentikan sementara rutinitas latihan yang selama ini dijalani secara konsisten. Bahkan, persiapannya untuk mengikuti Jakarta International Marathon (JAKIM) ikut terganggu karena harus fokus pada proses pemulihan.
“Jadi sekarang saya ikut JAKIM tanpa persiapan maksimal karena sebelumnya sempat cedera,” katanya.

Rahma mengakui bahwa kesalahan utamanya adalah mengabaikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat setelah menjalani lomba jarak jauh. Menurutnya, banyak pelari terlalu fokus pada target dan pencapaian hingga lupa bahwa tubuh juga membutuhkan waktu untuk memperbaiki diri.
Ia menegaskan bahwa cedera sering kali bukan disebabkan oleh olahraga itu sendiri, melainkan karena peningkatan beban latihan yang terlalu cepat tanpa diimbangi pemulihan yang memadai.
“Kalau menambah beban terlalu cepat, biasanya cedera. Kemarin recovery saya kurang karena habis half marathon saya masih terus lari lagi,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, Rahma belajar bahwa recovery merupakan bagian penting dari program latihan, sama pentingnya dengan sesi lari maupun latihan kekuatan. Istirahat yang cukup membantu otot memperbaiki diri dan mengurangi risiko cedera akibat penggunaan berlebihan atau overuse injury.
Selain menjaga waktu pemulihan, Rahma juga menekankan pentingnya latihan kekuatan atau strength training bagi para pelari. Menurutnya, memperkuat otot kaki, lutut, hamstring, dan glute dapat membantu tubuh lebih siap menghadapi beban latihan maupun lomba.
“Kalau hanya lari terus tanpa latihan kekuatan, risiko cedera akan lebih besar,” ujarnya.
Meski sempat mengalami cedera, Rahma tidak menjadikan pengalaman tersebut sebagai alasan untuk berhenti berolahraga. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai pembelajaran agar lebih bijak dalam mengatur jadwal latihan dan kompetisi.
Ia pun mengingatkan para pelari, terutama pemula, untuk tidak terburu-buru mengejar target jarak maupun jumlah event yang diikuti. Menurutnya, mendengarkan kondisi tubuh jauh lebih penting daripada memaksakan diri demi mengejar prestasi.
“Olahraga itu untuk sehat dan senang. Jangan sampai karena terlalu memaksakan diri malah cedera dan tidak bisa berlari lagi,” tuturnya.
Bagi Rahma, keberhasilan seorang pelari bukan hanya soal menembus garis finis atau mencatat waktu terbaik, tetapi juga kemampuan menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar dari cedera dalam jangka panjang.











