C&R TV, Jakarta — Semangat Rahma Sarita untuk mengikuti ajang lari bergengsi tidak surut meski sempat dibekap cedera. Presenter dan pegiat olahraga lari itu memastikan dirinya tetap akan ambil bagian dalam Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang digelar pada 14 Juni mendatang.
Bagi Rahma, mengikuti event lari bukan sekadar mengejar medali atau catatan waktu terbaik. Setiap perlombaan menjadi bagian dari proses latihan yang selama ini ia jalani secara konsisten.
“Kalau ada event besar, saya usahakan ikut. Karena ikut event itu sama saja dengan latihan, hanya saja lebih serius dan dapat medali,” ujar Rahma.

JAKIM 2026 menjadi event terdekat yang saat ini menjadi fokus persiapannya. Namun, persiapan menuju lomba tersebut tidak berjalan sepenuhnya mulus. Rahma mengaku baru saja mengalami cedera yang membuat program latihannya terganggu.
Cedera tersebut terjadi setelah ia mengikuti dua ajang half marathon dalam waktu yang berdekatan tanpa memberikan waktu pemulihan yang cukup bagi tubuh. Kondisi itu membuatnya harus mengurangi intensitas latihan dalam beberapa waktu terakhir.
“Ini saya ikut JAKIM tanpa persiapan maksimal karena sebelumnya sempat cedera,” ungkapnya.

Meski demikian, Rahma tetap optimistis dapat menyelesaikan lomba dengan baik. Ia menyadari bahwa kondisi fisiknya belum sepenuhnya kembali seperti sebelum cedera, tetapi pengalaman mengikuti berbagai event lari membuatnya lebih memahami batas kemampuan tubuh.
Menurut Rahma, salah satu kesalahan yang menyebabkan cedera adalah kurangnya recovery setelah menjalani lomba jarak jauh. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya untuk lebih bijak mengatur jadwal latihan dan kompetisi.
“Harusnya saya recovery, tetapi malah masih lari lagi dan ikut event berikutnya. Akhirnya cedera,” katanya.

Sebagai pelari yang baru menekuni olahraga ini sejak usia 50 tahun, Rahma mengaku selalu berusaha menikmati setiap proses yang dijalani. Karena itu, target utamanya dalam setiap event bukan hanya soal mengejar catatan waktu terbaik atau personal best, melainkan juga menjaga konsistensi dan kebugaran tubuh.
Meski para pelari umumnya memiliki target personal best dalam setiap lomba, Rahma memilih menjadikan pencapaian tersebut sebagai catatan pribadi yang tidak perlu dipaksakan.
“Kalau bisa lebih baik dari event sebelumnya tentu senang. Tapi kalau tidak juga tidak apa-apa, karena yang penting tetap menikmati prosesnya,” ujarnya.
Dalam persiapan menuju JAKIM 2026, Rahma juga tetap memperhatikan berbagai kebutuhan penting saat berlomba. Salah satunya adalah energi gel yang menurutnya menjadi perlengkapan wajib bagi pelari jarak jauh untuk menjaga stamina selama berlari.

Selain itu, ia juga menyiapkan asupan elektrolit, perangkat smartwatch untuk memantau performa, serta perlengkapan pendukung lainnya yang biasa digunakan saat mengikuti race.
Bagi Rahma, mengikuti event seperti Jakarta International Marathon bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga kesempatan untuk mengukur hasil latihan yang telah dilakukan selama berbulan-bulan.
View this post on Instagram
Dengan pengalaman yang semakin bertambah dan semangat yang tetap terjaga, Rahma berharap dapat menikmati JAKIM 2026 dengan kondisi terbaik yang dimilikinya saat ini.
“Namanya olahraga itu harus dinikmati. Yang penting bisa tetap lari, tetap sehat, dan sampai di garis finis dengan baik,” tuturnya.











