C&R TV, Jakarta — Bagi sebagian orang, mengikuti lomba lari identik dengan persaingan, mengejar catatan waktu terbaik, atau bahkan berburu podium. Namun, Rahma Sarita memiliki cara pandang yang berbeda. Baginya, event lari bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari proses latihan yang dijalani dengan suasana yang lebih istimewa.
Perempuan yang mulai serius menekuni olahraga lari pada usia 50 tahun itu mengaku selalu berusaha mengikuti berbagai event lari yang digelar. Menurutnya, setiap race merupakan kesempatan untuk mengukur hasil latihan sekaligus menikmati pengalaman berlari bersama ribuan peserta lainnya.
“Ikut event itu sama saja dengan latihan, cuma lebih serius dan dapat medali,” ujar Rahma.

Filosofi tersebut membuat Rahma tidak terbebani dengan target yang terlalu tinggi setiap kali mengikuti lomba. Ia melihat event lari sebagai sarana untuk menjaga konsistensi latihan sekaligus memberikan motivasi tambahan agar tetap aktif berolahraga.
Karena itulah, ketika ada ajang lari yang menarik dan sesuai jadwal, Rahma hampir selalu berusaha untuk ikut serta. Baginya, suasana kompetisi justru menjadi cara menyenangkan untuk menjalani latihan yang selama ini dilakukan secara rutin.
“Pokoknya kalau ada event besar, saya usahakan ikut,” katanya.

Rahma menilai event lari memiliki banyak keuntungan dibandingkan latihan biasa. Selain memberikan pengalaman berbeda, berbagai kebutuhan pelari juga telah disiapkan oleh penyelenggara, mulai dari water station, dukungan medis, hingga suasana yang membangkitkan semangat sepanjang lintasan.
Menurutnya, fasilitas tersebut membuat pelari dapat lebih fokus menikmati setiap kilometer perjalanan tanpa harus terlalu memikirkan kebutuhan logistik selama berlari.
“Kalau ikut event, water station sudah tersedia. Jadi lebih nyaman untuk latihan jarak jauh,” ujarnya.

Meski menganggap lomba sebagai bagian dari latihan, Rahma tetap memiliki target pribadi setiap kali mengikuti race. Seperti kebanyakan pelari, ia berusaha memperbaiki catatan waktu atau personal best (PB) dari event sebelumnya.
Namun, ia menegaskan bahwa target tersebut bersifat pribadi dan tidak boleh menjadi beban yang menghilangkan kesenangan dalam berolahraga.
“Semua pelari pasti mengusahakan personal best. Tapi kalau tidak tercapai juga tidak apa-apa, karena ini tetap harus dinikmati,” katanya.

Pandangan tersebut membuat Rahma lebih fokus pada proses dibanding hasil akhir. Baginya, keberhasilan seorang pelari tidak hanya diukur dari kecepatan atau posisi finis, melainkan dari kemampuan menjaga konsistensi latihan dan terus bergerak menuju kondisi yang lebih baik.
Dalam perjalanannya sebagai pelari, Rahma juga menyadari bahwa setiap event memberikan pengalaman dan pelajaran berbeda. Ada kalanya ia berhasil mencapai target, tetapi ada juga momen ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk tampil maksimal.
Karena itu, ia memilih menikmati setiap perlombaan sebagai bagian dari perjalanan panjang menuju gaya hidup yang lebih sehat.
View this profile on Instagram
Filosofi tersebut pula yang membuat Rahma tetap antusias mengikuti berbagai ajang lari meski pernah mengalami cedera akibat jadwal lomba yang terlalu padat. Baginya, yang terpenting bukan sekadar mengoleksi medali, melainkan menjaga semangat untuk terus berlari.
“Yang penting tetap sehat, tetap bisa berlari, dan menikmati prosesnya,” tuturnya.
Bagi Rahma, medali memang menjadi bonus yang menyenangkan. Namun nilai terbesar dari sebuah race adalah kesempatan untuk menguji diri sendiri, merayakan hasil latihan, dan merasakan kebersamaan dengan komunitas pelari. Itulah alasan mengapa ia menyebut setiap event lari sebagai “latihan premium” yang menghadirkan pengalaman lebih lengkap dibanding latihan biasa.











