C&R TV, Jakarta — Ada yang berbeda dari sorot mata Andika Mahesa kali ini. Bukan gemerlap panggung atau teriakan penonton yang ia ceritakan, melainkan keheningan panjang saat teringat dua nama: Kirana dan Anjani.
Di sela kesibukannya sebagai vokalis Kangen Band, ia menyimpan luka yang coba disembunyikannya selama bertahun-tahun. Luka karena waktu yang hilang.
Dalam wawancara dengan detikHot di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026), Andika tak kuasa menahan getar suaranya. Ia mengakui, menjadi musisi membuatnya jarang berada di rumah. Waktu yang seharusnya ia habiskan bersama putri-putrinya, justru lebur di jalan dan panggung.
“Orang tua musisi pasti pernah ngerasain apa yang gue rasain, musisi pasti. Karena kan musisi itu jarang di rumah banyakan di luar.”
Kata-kata itu meluncur dengan jujur. Kirana, yang kini berusia sekitar 16 tahun, dan Anjani yang 14 tahun, tumbuh besar tanpa kehadiran penuh sang ayah. Momen-momen kecil seperti menemani belajar atau sekadar mengobrol di malam hari, seringkali terlewat begitu saja.
Kerinduan yang menumpuk itulah yang membuat Andika sangat emosional. Baginya, membicarakan anak adalah hal yang langsung memancing air mata.
“Ya paling ketemu ya aku kan kalau cerita anak pasti gampang nangis ya, berbulan-bulan bertahun-tahun paling nangis lah nyesal gak ada momen-momen sama dia gitu.”
Penyesalan itu membekas. Bukan hanya karena jarak fisik, melainkan ikatan yang terasa semakin renggang. Ia sadar betul, kehilangan momen selama bertahun-tahun tak akan bisa kembali.
Jadwalnya yang padat menjadi penyebab utama. Dalam seminggu, Andika bisa manggung tiga hingga empat kali. Quality time bersama keluarga pun berubah menjadi barang mewah yang sulit didapatkan.
Namun, ia tidak ingin larut dalam penyesalan tanpa solusi. Sadar memiliki lebih dari satu anak, Andika berusaha membagi perhatiannya dengan lebih adil. Ia paham, pekerjaan yang telah membesarkan namanya ini juga yang mengharuskannya untuk terus bergerak.
“Saya paham betul anak saya bukan satu, saya harus berbagi waktu ke mana-mana jadi gak bisa cuma ke saya, karena pekerjaan saya memang dari awal di sini gitu.”
Pengakuannya ini adalah sisi lain dari kehidupan panggung yang gemerlap. Di balik sorot lampu dan tepuk tangan, ada seorang ayah yang tengah berjuang menebus waktu yang telah direnggut oleh impiannya sendiri.













