C&R TV, Jakarta — Bagi sebagian pelari, sepatu mungkin hanya dianggap sebagai perlengkapan olahraga. Namun bagi Rahma Sarita, sepatu lari memiliki makna lebih dari sekadar alat penunjang aktivitas fisik. Di balik fungsinya yang penting untuk kenyamanan dan keamanan saat berlari, sepatu juga menjadi salah satu sumber motivasi yang membuatnya semakin semangat berolahraga.
Rahma mengaku kerap tergoda membeli sepatu lari baru meski koleksi yang dimilikinya belum sepenuhnya digunakan. Kebiasaan itu, menurutnya, bukan semata-mata soal gaya hidup, melainkan bagian dari cara menjaga semangat agar tetap konsisten berlari.
“Sepatu itu kan bagian dari sport gear yang bisa jadi motivasi. Kadang belum dipakai saja sudah beli baru lagi,” ujar Rahma sambil tertawa.

Perempuan yang mulai serius menekuni olahraga lari sejak usia 50 tahun itu mengaku setiap perlengkapan baru sering kali menghadirkan semangat baru untuk berlatih. Sensasi menggunakan sepatu baru membuatnya semakin antusias menantikan sesi lari berikutnya.
Meski demikian, Rahma menegaskan bahwa memilih sepatu lari tidak boleh hanya berdasarkan model atau tren yang sedang populer. Menurutnya, faktor kenyamanan tetap menjadi hal utama yang harus diperhatikan oleh setiap pelari.
Ia menjelaskan bahwa tidak semua sepatu yang mahal atau memiliki desain menarik otomatis cocok digunakan oleh semua orang. Setiap pelari memiliki bentuk kaki dan kebutuhan yang berbeda-beda.

“Kadang-kadang sepatu baru belum tentu cocok. Ada yang terlalu sempit, ada yang bentuknya kurang pas untuk kaki kita,” katanya.
Karena itu, Rahma lebih mengutamakan sepatu yang sudah terbukti nyaman digunakan dalam berbagai sesi latihan maupun lomba jarak jauh. Ia percaya kenyamanan sepatu sangat berpengaruh terhadap performa sekaligus risiko cedera.
Menurut Rahma, perbedaan kualitas dan kondisi sepatu akan terasa semakin signifikan ketika digunakan untuk long run atau half marathon. Jika bantalan sepatu sudah mulai menipis atau tidak lagi memberikan dukungan yang baik, risiko munculnya rasa sakit pada kaki maupun cedera akan meningkat.
“Kalau untuk lari jarak pendek mungkin tidak terlalu terasa. Tapi kalau long run, sepatu sangat berpengaruh. Kalau sudah tipis bisa bikin kaki sakit bahkan cedera,” ujarnya.

Pengalaman mengikuti berbagai event lari membuat Rahma semakin memahami pentingnya mengenali sepatu yang paling sesuai dengan karakter kaki dan gaya berlarinya. Karena itu, ia tidak mudah berganti model hanya karena mengikuti tren.
Bagi Rahma, sepatu terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling baru, melainkan yang mampu memberikan rasa nyaman saat digunakan berlari dalam waktu lama.
Meski sering menjadikan sepatu baru sebagai penyemangat, ia mengingatkan para pelari pemula agar tidak terjebak pada anggapan bahwa perlengkapan mahal adalah kunci utama keberhasilan dalam olahraga lari.

Menurutnya, konsistensi latihan tetap menjadi faktor terpenting. Perlengkapan hanya berfungsi sebagai pendukung yang membantu membuat aktivitas olahraga menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
“Yang paling penting tetap latihan. Tapi memang kalau punya sepatu baru, rasanya jadi lebih semangat untuk keluar dan lari,” tuturnya.
Bagi Rahma, sepatu lari bukan sekadar alas kaki. Di balik setiap pasang yang dikenakannya, tersimpan semangat, target, dan perjalanan panjang menuju hidup yang lebih sehat dan bugar.











